Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8) pagi menyebabkan kerusakan pada puluhan bangunan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya dua unit rumah rusak berat, satu unit rumah rusak sedang, dan dua unit rumah rusak ringan. Selain itu, satu gudang Bulog ikut terdampak, tiga fasilitas umum mengalami kerusakan ringan, dan enam kantor pemerintahan turut terdampak.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, mengatakan data kerusakan tersebut masih bersifat sementara dan terus diverifikasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama unsur terkait. "Data tersebut masih bersifat sementara dan terus diverifikasi oleh BPBD bersama unsur terkait," ujarnya dalam keterangan resmi.
Gempa yang terjadi pada pukul 04.58 WIB ini juga memicu gelombang evakuasi mandiri. Sekitar 2.000 warga Kabupaten Nagekeo memilih meninggalkan rumah mereka sebagai langkah kewaspadaan setelah peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan. "Selain itu, sekitar 2.000 warga di Kabupaten Nagekeo melakukan evakuasi mandiri sebagai langkah kewaspadaan setelah gempa dan adanya peringatan dini tsunami," kata Berton.
Pusat gempa berada di laut, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan gempa ini dipicu oleh pergerakan Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back-Arc Thrust. "Ini adalah mekanisme gempa yang diakibatkan oleh Sesar Naik Busur Belakang Flores, gempa 7,7 magnitudo. Jadi di belakang busur Flores ini ada potensi gempa dengan maksimum 7,8 (magnitudo), 7,9 (magnitudo). Hari ini sudah rilis 7,7 magnitudo," ungkapnya saat konferensi pers di kantor BMKG.
Meskipun peringatan dini tsunami sempat memicu evakuasi di sejumlah wilayah pesisir, BMKG menyatakan tidak ditemukan lagi peningkatan muka air laut yang signifikan dan membahayakan. Peringatan dini tsunami resmi dicabut pada pukul 07.31 WIB. Kendati demikian, BNPB tetap mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dan tidak memasuki bangunan yang telah rusak akibat gempa.