Sejumlah pengamat mulai khawatir terhadap posisi Presiden yang dinilai rapuh di hadapan tekanan politik dari kelompok-kelompok tertentu, seperti Geng Solo, oligarki, dan parcok. Ketakutan ini muncul di tengah kebiasaan Presiden yang kerap menyampaikan pidato dengan data yang dianggap tidak masuk akal.
Salah satu contoh pidato yang menuai sorotan adalah pernyataan tentang upah buruh kupas bawang yang disebut mencapai 700 ribu rupiah per kilogram. Pernyataan serupa juga pernah disampaikan mengenai keuntungan usaha penggilingan padi yang diklaim mencapai 2 triliun rupiah per bulan.
Data-data tersebut dinilai tidak masuk akal dan memicu pertanyaan tentang sumber informasi yang digunakan Presiden. Banyak pihak mulai bertanya-tanya siapa yang sebenarnya memberikan data-data tersebut kepada Presiden, dan apakah ada unsur kesengajaan untuk menjerumuskan kepala negara.