Di tengah hiruk-pikuk politik yang kerap diwarnai gaya hidup mewah para pejabat, sosok Mahfud MD tampil sebagai anomali. Selama 24 tahun mengemban amanah di berbagai lini pemerintahan, ia justru mengaku sudah merasa kaya raya dengan gaji yang diterimanya. Pernyataan itu ia sampaikan dalam sebuah wawancara di kanal YouTube Syukur Mandar Podcast, Rabu (12/08/2026).
Pria yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, serta Ketua Mahkamah Konstitusi ini menegaskan bahwa seluruh jabatan yang diamanahkan kepadanya tidak pernah dijadikan lahan untuk memperkaya diri. Padahal, ia tercatat melengkapi tiga pilar kekuasaan: eksekutif, yudikatif, dan legislatif.
"Saya bilang, saya ini kaya raya loh. Saya menjabat 24 tahun dari 1999, Menhan, Menteri Kehakiman, lalu beberapa kali menteri ad interim, Menkomdigi, Menpan-RB, lalu Menko, Ketua MK, di BPIP, gajinya gede-gede lah, pokoknya ditanggung negara semua. Maksud saya, uang itu kan sudah gede banget untuk ukuran saya," ujarnya.
Meski demikian, Mahfud mengakui ukuran kekayaannya tidak bisa dibandingkan dengan politisi baru seperti Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia. Namun, ia menilai apa yang diperolehnya selama ini sudah lebih dari cukup.
Prinsip Hidup: Cukup dan Tidak Mau Minta
Mahfud menantang siapa pun untuk membuka ke publik jika selama 24 tahun berkarier ia pernah dimintai sesuatu. Baginya, kebersihan ini pula yang membuatnya tidak pernah ragu bersuara karena tidak memiliki beban politik apa pun.
"Sudah lebih dari cukup, untuk apa saya minta lagi ke orang secara tidak sah, lalu saya simpannya di mana? Kan gitu. Sekarang, saya rumah sudah punya, mobil ya sudah punya, kalau bepergian pakai pesawat juga, sudah cukup kok, tidak perlu sampai beli pesawat untuk apa? Dan saya tidak punya beban apa-apa karena tidak merasa pernah mengambil sesuatu yang tidak sah, baik itu meminta maupun diberikan," tegas Mahfud.
Ia mengaku lebih suka memberi daripada diberi. Setiap bulan, ia menyisihkan uang pribadi ke Biro Keuangan untuk keperluan pribadinya, termasuk untuk istri dan anak-anaknya. Kebiasaan ini ia terapkan sejak menjadi Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan. Bahkan, ia tidak segan memecat staf yang menggunakan uang negara untuk keperluan pribadinya.
"Tanya aja, ketika saya Menkopolhukam dulu setiap bulan saya kasih uang kepada Biro Keuangan, ini uang pribadi saya kamu pegang, kalau ada keperluan saya pribadi kamu keluarkan dari sini. Kalau keperluan saya kamu ambil dari kantor, saya pecat kamu. Saya titip uang ke dia, setiap bulan lapor berapa uang pribadi istri saya, anak saya, siapa tahu butuh apa-apa di jalan kamu pakai uang ini. Jangan sampai lewat sebulan ketika pembukuan, dan saya merasa tidak hina dan tidak sok," paparnya.
Menjaga Marwah Demokrasi
Dalam kesempatan itu, host Syukur Mandar mengapresiasi sikap Mahfud yang tetap kritis meski kerap berada di dalam pemerintahan. Ia menilai, biasanya politisi akan semakin lentur jika sudah berulang kali menjabat. Namun, Mahfud justru konsisten.
Salah satu contoh yang disorot adalah keputusan Mahfud mengundurkan diri dari jabatan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan sebelum Pilpres 2024. Ia tidak ingin menggunakan fasilitas negara untuk berkampanye, sebuah langkah yang tidak diikuti peserta pemilu lainnya.
"Saya tidak mau kalau saya ke daerah lalu menggunakan fasilitas negara berkampanye, tidak mau. Pejabat kita malah dijemput ramai-ramai dengan fasilitas pemerintah, dan itu disiarkan tanpa malu-malu di TV. Ketika saya mengundurkan diri juga begitu, Pak (Jokowi) saya tidak enak situasi begini rasanya kalau saya tidak mengundurkan diri perasaan saya tidak enak. Oh tidak Pak Mahfud, yang lain juga tidak mengundurkan diri tidak apa-apa peraturan membolehkan. Saya bilang, saya mundur saja, ya tidak apa-apa, kita tetap hubungan baik ya, begitu Pak Jokowi, iya Pak," ceritanya.
Artikel Terkait
Pengamat Ingatkan Prabowo soal Runtuhnya Soeharto dari Dalam Istana
Mahfud MD: Esensi Kemerdekaan Belum Dirasakan karena Korupsi dan Ketidakadilan
Pengamat: Sisa Dua Bulan, Prabowo Harus Segera Reshuffle Kabinet
Mahfud MD: Indonesia Sudah Maju, tapi Belum Baik-Baik Saja