Leicester City kembali menjadi sorotan. Klub yang pernah mengejutkan dunia dengan gelar Premier League 2016 itu kini resmi ditawarkan kepada calon investor. Pemiliknya, keluarga Srivaddhanaprabha melalui King Power International, memutuskan menjual klub beserta sejumlah asetnya dengan nilai portofolio mencapai 222 juta poundsterling atau sekitar Rp5,4 triliun.
Bank investasi global Citigroup telah menyusun brosur penjualan dengan tajuk Project Lineup yang telah dikirim ke sejumlah calon investor. Dokumen tersebut memuat aset Leicester City, termasuk tim putri, akademi, King Power Stadium, pusat latihan Seagrave, serta klub Belgia OH Leuven.
Meski dipatok tinggi, harga tersebut dinilai masih berpotensi turun. Nilai transaksi diperkirakan lebih realistis berada di kisaran 148 juta poundsterling atau sekitar Rp2,6 triliun. Pertimbangannya, Leicester City baru saja terdegradasi ke League One, kompetisi kasta ketiga sepak bola Inggris, serta mengalami kerugian besar dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam empat laporan keuangan terakhir sejak 2021, Leicester City mencatat kerugian masing-masing sebesar 92,5 juta poundsterling, 89,7 juta poundsterling, 19,4 juta poundsterling, dan terbaru 71,1 juta poundsterling. Kondisi tersebut terjadi setelah klub mengalami tiga kali degradasi dalam empat musim dan terlempar dari papan atas Premier League.
Daya Tarik di Balik Kemunduran
Meski mengalami kemunduran, Leicester City masih memiliki daya tarik bagi investor karena memiliki portofolio aset yang besar. Nilai properti klub pada 2025 mencapai sekitar 204 juta poundsterling, terdiri atas King Power Stadium senilai 74 juta poundsterling, pusat latihan Seagrave 121 juta poundsterling, dan Belvoir Drive 9 juta poundsterling.
Selain itu, klub memiliki lahan di sekitar King Power Stadium yang sebelumnya dibeli seharga 11,6 juta poundsterling yang direncanakan untuk pengembangan stadion. Namun, rencana tersebut dihentikan setelah Leicester terdegradasi dari Premier League pada akhir musim 2022-2023.
Brosur penjualan juga menonjolkan sejumlah pencapaian Leicester City sejak keluarga Srivaddhanaprabha dan King Power International mengambil alih klub dari Milan Mandaric dengan nilai sekitar 35 juta poundsterling pada 2010. Pencapaian tersebut antara lain menjuarai Premier League pada 2016 dan meraih trofi FA Cup untuk pertama kalinya pada 2021.
Dalam dokumen tersebut, Leicester City disebut sebagai salah satu dari hanya lima klub yang berhasil memenangkan tiga trofi domestik utama Inggris sejak 2000. Akademi kategori satu milik klub juga menjadi daya tarik karena telah menghasilkan pemain yang kemudian dijual dengan nilai lebih dari 250 juta poundsterling dalam lima tahun terakhir. OH Leuven turut ditawarkan sebagai bagian dari struktur kepemilikan multi klub yang dinilai dapat mendukung pengembangan talenta, perekrutan pemain, dan analisis data.
Protes Suporter dan Sikap Pemilik
Namun, kondisi klub dalam beberapa musim terakhir memicu keresahan suporter. Aksi protes terhadap King Power untuk menjual klub berulang kali dilakukan. Pada Januari 2026, Chairman Leicester City, Aiyawatt Srivaddhanaprabha, masih menegaskan komitmennya untuk melanjutkan visi sang ayah, Vichai Srivaddhanaprabha, yang meninggal dalam kecelakaan helikopter di luar King Power Stadium pada 2018.
"Saya masih merasakan hal yang sama. Saya sangat mencintai sepak bola dan klub ini. Saya ingin memastikan klub kembali sukses," kata Aiyawatt.
Dia sebelumnya juga menyatakan penjualan klub bukan jalan keluar yang diinginkannya dan ingin memastikan seluruh rencana yang telah dibuatnya bersama sang ayah dapat diselesaikan. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan keluarga Srivaddhanaprabha kini mulai membuka peluang untuk mengakhiri kepemilikannya atas Leicester City beserta aset-aset klub.