PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) telah menyelesaikan pemisahan usaha (spin-off) InfraCo Tahap 2 dengan nilai transaksi mencapai Rp49,9 triliun. Langkah ini menegaskan posisi PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) sebagai tulang punggung bisnis konektivitas grosir (wholesale) TelkomGroup.
Setelah Tahap 1 yang efektif sejak Januari 2026, InfraNexia kini mengelola aset senilai Rp85,7 triliun, atau lebih dari 90 persen total infrastruktur jaringan yang sebelumnya dimiliki Telkom. Dengan demikian, perusahaan siap menjadi penyedia infrastruktur digital yang netral, andal, dan berorientasi pada kebutuhan pelanggan.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menyebut penyelesaian spin-off ini sebagai tonggak penting dalam transformasi bisnis perusahaan. Menurutnya, langkah ini sejalan dengan inisiatif Danantara Asset Management dalam mengonsolidasikan aset BUMN sekaligus mempertajam fokus pengelolaan infrastruktur digital.
“Spin-Off InfraCo Tahap 2 sebagai langkah strategis dalam perjalanan transformasi TLKM 30 untuk memperkuat InfraNexia sebagai mesin pertumbuhan baru, yang akan meningkatkan kapabilitas layanan infrastruktur, mengoptimalkan efisiensi bisnis, serta membuka peluang kemitraan strategis guna mendukung percepatan konektivitas digital nasional,” ujar Dian.
Kelola 112.000 Km Jaringan Fiber
Setelah pengalihan portofolio bisnis dan aset, InfraNexia akan mengelola sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik yang membentang di seluruh Indonesia. Total jaringan tersebut hampir setara dengan tiga kali keliling bumi.
Dengan aset sebesar itu, InfraNexia diharapkan semakin memperkuat perannya sebagai penyedia layanan wholesale connectivity yang fokus pada pengembangan infrastruktur konektivitas nasional. Telkom menyebut spin-off ini juga bertujuan meningkatkan pengalaman pelanggan melalui bisnis infrastruktur yang lebih fokus, lincah, dan berdaya saing.
Transformasi ini merupakan bagian dari strategi TLKM 30, termasuk pilar unlock value yang mempercepat monetisasi aset bernilai tinggi seperti data center, tower, dan jaringan fiber. Selain itu, pemisahan bisnis diharapkan meningkatkan efisiensi operasional dan investasi, serta membuka peluang kemitraan strategis.
InfraNexia Perkuat Layanan Wholesale
Direktur Utama InfraNexia, Lukman Hakim Abd. Rauf, mengatakan penyelesaian spin-off menjadi fondasi penting bagi perusahaan untuk memperkuat posisi sebagai penyedia infrastruktur konektivitas wholesale yang netral dan andal. InfraNexia akan memperkuat sejumlah layanan utama, mulai dari 5G backhaul, wholesale network dan FTTx, hingga passive infrastructure sharing.
Perusahaan juga mempercepat program modernisasi jaringan dan mendorong implementasi autonomous network untuk menghadirkan infrastruktur yang lebih cerdas, efisien, dan adaptif. “Upaya strategis ini akan memperkuat kesiapan kami dalam pengembangan konektivitas mendukung pertumbuhan AI, cloud, dan data center di Indonesia. Semua ini kami jalankan dengan fokus utama kepada pertumbuhan bisnis dan kepuasan pelanggan,” ujar Lukman.
Telkom menegaskan proses transaksi berjalan mulus tanpa dampak terhadap layanan pelanggan. Seluruh proses dilakukan dengan mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik serta memenuhi ketentuan hukum dan regulasi yang berlaku.
Artikel Terkait
Telkom Jalin Kemitraan dengan Ruijie Networks untuk Perkuat Solusi Jaringan Korporasi
InfraNexia Catat Pendapatan Rp7,7 Triliun di Semester I 2026, Tumbuh Berkat Transformasi
Telkom Gelar Workshop Kriptografi Pascakuantum, Antisipasi Ancaman Komputer Kuantum
Telkom Perkuat Budaya Perusahaan Lewat Culture Festival 2026