Semuel Padama mengaku campur aduk saat pertama kali melihat putranya, Adriano Padama, berbicara langsung dengan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tentang mahalnya harga beras di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Baginya, momen itu bukan sekadar keberanian seorang mahasiswa baru, melainkan keberanian membawa persoalan kampung halaman dengan data yang kemudian ia cek sendiri.
"Pertama saya sedikit kaget, lalu bahagia, tetapi bercampur sedih, kagum, karena dia bisa berani seperti itu," ujar Semuel di kediamannya di Jembatan Hitam, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Yang membuat Semuel paling tegang justru bukan keberanian Adriano di hadapan seorang menteri. Ia khawatir anaknya menyampaikan data yang keliru tentang harga dan distribusi beras di Alor. Karena itu, setelah video dialog tersebut beredar, ia kembali mencocokkan angka-angka yang dipakai Adriano dengan kondisi lapangan.
"Saya khawatir, jangan sampai anak saya asal bicara. Data juga harus data yang konkret," katanya.
Sehari sebelumnya, Adriano yang tercatat sebagai mahasiswa Universitas Diponegoro menyampaikan langsung kepada Mentan bahwa harga beras di Alor bisa berada di kisaran Rp13.000 hingga Rp15.000 per kilogram di wilayah kota. Naik menjadi Rp17.000 sampai Rp18.000 per kilogram di pedalaman, bahkan dapat melonjak hingga Rp25.000 sampai Rp30.000 per kilogram saat distribusi terganggu cuaca buruk.
Mengecek ulang data beras Alor
Semuel mengatakan kekhawatiran itu berubah menjadi keyakinan setelah ia memeriksa kembali persoalan harga, distribusi, serta siapa saja warga yang sudah dan belum menikmati beras dengan harga terjangkau. Menurut dia, apa yang dibawa Adriano dalam dialog itu sesuai dengan kenyataan yang dirasakan masyarakat.
"Saya cek kembali mengenai harga, menyangkut distribusi, menyangkut siapa yang belum menikmati dan siapa yang sudah menikmati," tutur Semuel.
Ia menilai Adriano tidak sekadar bicara lantang, tetapi membawa fakta yang bisa diuji. Karena itu, kebanggaan Semuel tidak lahir hanya dari keberanian anaknya berbicara di ruang publik, melainkan dari keberanian yang dibangun di atas data. "Dia bicara dengan lantang, dengan berani, dengan jujur, dengan polos, dan dengan data," ujarnya.
Semuel juga mengaku tidak pernah menyuruh anaknya untuk bertanya atau mengkritik soal harga beras di hadapan pejabat negara. Menurut dia, keberanian itu muncul spontan dari diri Adriano sendiri. Ia menyebut putranya memang punya kebiasaan memikirkan problem sosial dan mencari jalan keluarnya lewat diskusi, membaca, dan belajar mandiri. "Saya dan istri (Ady Irma Rtebana) tidak pernah suruh dia omong begitu. Makanya saya heran," kata Semuel.
Respons cepat setelah dialog dengan Mentan
Hal yang membuat Semuel semakin terharu adalah respons cepat yang ia lihat setelah dialog tersebut. Menurut dia, masalah yang disampaikan Adriano tidak berhenti sebagai percakapan di forum kampus. Ada tindak lanjut yang langsung terasa di lapangan. "Pertama saya berterima kasih kepada Menteri, karena dia langsung merespons. Saat itu juga dia langsung eksekusi," ujar Semuel.
Ia menuturkan, sekitar satu jam setelah respons itu, penjualan beras murah mulai terlihat di lapangan, salah satunya di Desa Lembur Barat. Semuel menyebut harga beras kemasan lima kilogram yang sebelumnya Rp65.000 turun menjadi Rp57.000. Perubahan itu, menurut dia, menjadi bukti bahwa keluhan warga Alor tentang mahalnya beras benar-benar didengar.
Dalam dialog sebelumnya, Mentan Andi Amran Sulaiman juga memerintahkan pengiriman beras ke Alor dan meminta harga beras dijaga di level Rp12.500 per kilogram sesuai arahan pemerintah. Semuel berharap langkah tersebut tidak berhenti pada satu momentum, tetapi berlanjut hingga wilayah terpencil yang selama ini belum selalu menikmati distribusi pangan secara merata.
Di tengah perhatian publik yang kini tertuju kepada Adriano, Semuel justru memberi pesan sederhana kepada putranya: jangan berubah karena viral. "Intinya itu jangan sombong, dan ingat berdoa," katanya.