Perang Lawan Iran Menguras Stok Rudal Pertahanan AS, Para Jenderal Khawatir

- Kamis, 06 Agustus 2026 | 03:20 WIB
Perang Lawan Iran Menguras Stok Rudal Pertahanan AS, Para Jenderal Khawatir

Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menggunakan hampir 80 persen rudal pencegat sistem pertahanan udara untuk berbagai konflik, dengan perang melawan Iran menjadi penyebab terbesar penipisan persediaan. Para jenderal komandan senior militer AS memperingatkan bahwa stok amunisi Departemen Pertahanan (Pentagon) berada pada level yang sangat rendah dan berbahaya.

Beberapa sumber pejabat AS mengatakan kepada CNN bahwa stok sistem pertahanan udara utama AS menipis secara signifikan selama perang melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari lalu. Militer AS telah menggunakan hampir 80 persen dari inventaris rudal THAAD dibandingkan dengan jumlah sebelum perang, dan sekitar 50 persen rudal pencegat Patriot sejak awal konflik.

Lembaga think tank Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan AS memiliki sekitar 2.200 rudal Patriot dan 452 rudal THAAD sebelum perang dengan Iran pecah. Dengan penggunaan yang masif, cadangan rudal ini kini menipis drastis.

Negara-negara sekutu di Teluk juga menyampaikan kekhawatiran mengenai kekurangan sistem pertahanan udara mereka yang dapat memengaruhi kemampuan dalam menangkal serangan pembalasan Iran, jika Presiden Donald Trump memutuskan untuk meningkatkan eskalasi konflik. Beberapa negara tersebut bergantung pada sistem pertahanan udara AS, dan para pejabat negara Arab mengakui bahwa kekurangan stok bisa menghambat kemampuan mereka untuk mencegat serangan rudal dan drone Iran.

Iran menargetkan negara-negara di Timur Tengah yang menampung pangkalan-pangkalan militer AS. Isu menipisnya amunisi ini sebenarnya sudah mengemuka sebelum Trump memutuskan untuk membatalkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada akhir pekan lalu. Sumber pejabat itu juga mengatakan bahwa Angkatan Darat AS telah menggunakan hampir seluruh rudal permukaan ke udara jarak jauh yang memiliki tingkat akurasi tinggi.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags