Kritik Profesor Yahudi Amerika: Kematian Anak di Gaza Mencerminkan Konsensus Masyarakat Israel

- Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:00 WIB
Kritik Profesor Yahudi Amerika: Kematian Anak di Gaza Mencerminkan Konsensus Masyarakat Israel

Seorang cendekiawan Yahudi Amerika, Norman Finkelstein, melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan militer Israel di Gaza. Ia menegaskan bahwa pembunuhan anak-anak di wilayah tersebut bukan sekadar kebijakan sepihak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, melainkan cerminan dari sikap masyarakat Israel secara keseluruhan. "Israel membunuh anak-anak sebagai hobi. Masalahnya bukan Netanyahu, tetapi masyarakat Israel secara keseluruhan," ujarnya.

Finkelstein, yang dikenal konsisten menyuarakan pandangan kritisnya, berargumen bahwa karena Israel menerapkan wajib militer, mayoritas warga negaranya adalah bagian dari militer. Oleh karena itu, tindakan tentara di lapangan mencerminkan konsensus masyarakat, bukan sekadar perintah elit politik. Dalam wawancara dengan berbagai media, ia menggambarkan situasi di Gaza sebagai "proyek nasional" yang didukung luas, bukan kebijakan sepihak perdana menteri.

Ia mengutip berbagai hasil survei opini publik di Israel yang menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Yahudi Israel mendukung kelanjutan operasi militer skala penuh, bahkan ketika korban jiwa di kalangan warga sipil dan anak-anak Palestina terus meningkat. Finkelstein juga mengkritik penggunaan istilah militer Israel seperti "mowing the lawn" (memotong rumput) sebuah eufemisme untuk operasi militer berkala di Gaza yang menurutnya membuktikan bagaimana kematian anak-anak telah dinormalisasi dalam kesadaran publik Israel selama bertahun-tahun.

Skala Kematian Anak di Gaza

Badan-badan internasional seperti PBB dan lembaga kemanusiaan global menyatakan bahwa skala serta kecepatan kematian anak-anak di Gaza merupakan yang tertinggi dan paling tidak tertandingi dalam sejarah konflik modern global. Komisi Penyelidikan PBB serta Oxfam menegaskan bahwa jumlah korban anak-anak dan perempuan di Gaza dalam periode satu tahun jauh melampaui konflik bersenjata mana pun di dunia selama dua dekade terakhir.

Berikut adalah fakta dan data kunci dari organisasi internasional yang mendasari kesimpulan tersebut:

  • Melampaui Total Korban Dunia 4 Tahun: UNRWA melaporkan bahwa jumlah anak yang tewas di Gaza dalam beberapa bulan pertama konflik (mencapai lebih dari 12.300 anak) jauh lebih tinggi dibandingkan akumulasi total anak yang tewas di seluruh zona konflik dunia digabungkan selama empat tahun (2019–2022) yang berjumlah 12.193 anak.
  • Kecepatan Kematian Masif: Analisis dari Save the Children mencatat hanya dalam waktu tiga minggu pertama, korban jiwa anak-anak di Gaza sudah melampaui jumlah tahunan anak yang terbunuh di seluruh zona perang global.

Hingga pembaruan data resmi PBB dan UNICEF per pertengahan 2026, situasi anak-anak di Gaza digambarkan sebagai berikut:

  • Korban Jiwa & Luka: Lebih dari 20.000 anak dipastikan tewas dan total gabungan anak yang tewas atau cacat permanen akibat serangan militer telah menembus angka 64.000 anak.
  • Rata-rata Korban: Selama fase intensif konflik, rata-rata satu anak tewas setiap jam di Gaza.
  • Krisis Anak Yatim Terbesar: Badan Statistik Palestina (PCBS) mencatat hampir 40.000 anak kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka, menjadikannya krisis yatim piatu terbesar dalam sejarah modern.
  • Penyebab Kematian Lain: Selain bom dan runtuhan bangunan, ribuan anak menghadapi risiko kematian sekunder akibat kelaparan akut, malnutrisi, blokade bantuan medis, serta hancurnya total infrastruktur kesehatan.

PBB secara resmi menyebutkan bahwa skala kehancuran ini tidak sekadar dampak sampingan perang, melainkan akibat dari penargetan infrastruktur sipil yang masif sehingga UNICEF melabeli Jalur Gaza sebagai "tempat paling berbahaya di dunia bagi anak-anak."

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags