Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2026, permintaan terhadap lirik lagu "Hari Merdeka" atau yang akrab disebut "17 Agustus" meningkat. Bagi yang membutuhkan panduan lengkap, berikut ini disajikan lirik, notasi angka, profil pencipta, hingga sejarah di balik lagu ikonik tersebut.
Lirik Lagu Hari Merdeka
Berikut lirik lengkap lagu "Hari Merdeka" yang biasa dinyanyikan saat upacara bendera:
Tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Mer de ka
Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih dikandung badan
Kita tetap setia tetap sedia
Mempertahankan In-do-ne-si-a
Kita tetap setia tetap sedia
Membela negara kita
Bagian refrain diulang dua kali, kemudian ditutup dengan pengulangan bait "Kita tetap setia tetap sedia..." hingga dua kali.
Unduh Lirik dan Not Angka PDF
Bagi keperluan upacara atau latihan paduan suara, lirik dan not angka lagu ini tersedia dalam format PDF. File tersebut dapat diunduh melalui tautan berikut.
Profil H. Mutahar, Sang Pencipta
Lagu "Hari Merdeka" diciptakan oleh Husein Mutahar, atau lebih dikenal dengan H. Mutahar. Pria kelahiran Semarang, 5 Agustus 1916, ini merupakan komponis musik Indonesia yang juga aktif dalam perjuangan kemerdekaan.
Pendidikannya dimulai dari ELS di Semarang, kemudian melanjutkan ke MULO setingkat SMP, dan AMS setingkat SMA. Pada 1946, ia sempat kuliah di Fakultas Hukum UGM, namun dua tahun kemudian memilih bergabung dengan para pemuda nasionalis dalam Revolusi Kemerdekaan, termasuk ikut serta dalam Pertempuran 5 Hari di Semarang.
H. Mutahar juga dikenal sebagai penyelamat Bendera Pusaka saat Agresi Militer II Belanda pada Desember 1948 di Yogyakarta. Ia dipercaya menyelamatkan Sang Saka Merah Putih dari Istana Presiden. Selain itu, ia merupakan penggagas Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) dan pernah menjabat sebagai Sekretaris Negara, Pejabat Sesjen Deplu, hingga Duta Besar Indonesia untuk Vatikan. Ia wafat pada 19 Juni 2004 dan dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan.
Sejarah dan Makna Lagu
Lagu "Hari Merdeka" bukan sekadar pelengkap seremonial. Diciptakan pada 1946, lagu ini lahir dari situasi genting revolusi. Menurut buku "100 Konser Musik Indonesia" karya Anas Syahrul Alimi dan Muhidin M. Dahlan, Presiden Sukarno meminta H. Mutahar, yang saat itu menjadi ajudannya, untuk membuat sebuah aubade atau nyanyian penghormatan pagi. Mutahar pun meminjam orkes keraton dan memimpin permainan musik dengan penuh semangat sambil berdiri di atas meja reot di Yogyakarta.
Ketika lagu itu diperdengarkan dalam upacara resmi 17 Agustus, Sukarno merasa gembira dan memuji kepiawaian Mutahar. Makna lagu ini erat kaitannya dengan kebangkitan jiwa rakyat setelah merebut kedaulatan. Diksi tegas seperti "Sekali merdeka tetap merdeka" dan "Selama hayat masih dikandung badan" dirancang untuk membakar semangat patriotisme.
Menariknya, setahun sebelumnya, H. Mutahar juga menciptakan lagu nasional legendaris "Syukur". Lagu itu lahir dari kepedihan saat menyaksikan warga Semarang terpaksa memakan bekicot di bawah pendudukan Jepang. Dengan berlinang air mata, ia menulis bait syahdu: "Dari yakinku teguh, Hati ikhlasku penuh..."