Menutup Pabrik Rokok Bukan Solusi, Ini Kata Dokter

- Senin, 03 Agustus 2026 | 16:20 WIB
Menutup Pabrik Rokok Bukan Solusi, Ini Kata Dokter

Perdebatan soal rokok di media sosial kembali memanas. Sebagian warganet mempertanyakan mengapa pemerintah tidak langsung menutup pabrik rokok saja jika memang ingin menekan konsumsi rokok. Pertanyaan itu kemudian ditanggapi oleh dr. Rahadian Faisal melalui akun Threads-nya.

Menurutnya, menutup pabrik rokok bukanlah solusi yang tepat karena dampaknya terlalu radikal dan masif. Ia menegaskan bahwa langkah yang lebih realistis adalah dengan melakukan edukasi tentang bahaya rokok, membatasi area merokok, dan memperketat aturan iklan rokok. Dengan begitu, permintaan rokok akan turun secara perlahan, dan industri rokok pun akan menyesuaikan diri.

"Demand turun, industri rokok turun perlahan, pekerjanya secara bertahap akan beralih ke industri lain. Ketergantungan negara dari industri rokok juga turun perlahan," tulisnya.

Pernyataan ini sejalan dengan data dari negara-negara maju yang telah menerapkan kebijakan ketat terkait rokok. Berdasarkan penelusuran melalui Google AI, aturan seperti kenaikan harga atau cukai tinggi, kemasan polos tanpa merek, serta larangan merokok di tempat umum terbukti efektif menurunkan jumlah perokok.

Dua faktor utama yang disebutkan adalah kenaikan harga yang signifikan dan pembatasan ruang publik. Pajak tinggi pada produk tembakau membuat perokok pemula dan masyarakat berpenghasilan rendah berpikir ulang untuk mulai atau berhenti merokok. Sementara itu, larangan merokok di kantor, restoran, dan transportasi umum membatasi kebiasaan merokok sekaligus membangun norma sosial yang menolak asap rokok di ruang bersama.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags