Kontras dengan Jokowi, Begini Gaya Hidup Raja Boti yang Mandiri dan Menjaga Alam

- Minggu, 02 Agustus 2026 | 13:00 WIB
Kontras dengan Jokowi, Begini Gaya Hidup Raja Boti yang Mandiri dan Menjaga Alam

Namah Benu, pemimpin adat Boti di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, menjalani hidup yang bertolak belakang dengan kebanyakan pemimpin modern. Selama lebih dari satu dekade terakhir, ia konsisten memegang teguh kepercayaan lama Halaika yang menghormati Uis Pah (Bumi) dan Uis Neno (Langit), serta menjaga alam dan leluhur.

Di bawah kepemimpinannya, warga Boti menerapkan aturan adat yang ketat untuk melindungi lingkungan. Menebang pohon hanya boleh dilakukan jika sangat mendesak, dan setiap pohon yang ditebang wajib diganti dengan menanam lebih banyak. Setiap musim hujan, mereka menanam pohon di hutan keramat yang disebut Faen Mate. Ritual menjaga mata air, yang dikenal sebagai Tpnat Oematan, juga dilakukan secara rutin. Selain itu, penggunaan bahan kimia untuk mandi, mencuci, maupun bercocok tanam sangat dilarang. Warga bahkan membuat sabun dan sampo sendiri dari bahan alami.

Hampir seluruh kebutuhan hidup orang Boti dipenuhi dari hasil alam sekitar. Mereka menganut prinsip "menanam apa yang dimakan, makan yang ditanam", sehingga pantang menerima bantuan beras dari luar. Usif Namah Benu bahkan secara tegas menolak bantuan beras pemerintah. Ia telah menemui pemerintah desa setempat untuk meminta agar keluarganya dikeluarkan dari daftar keluarga miskin yang ditetapkan sepihak oleh pemerintah.

Meskipun tinggal di daerah berbukit kapur yang kering dengan musim hujan hanya dua hingga tiga bulan, Boti tetap mandiri pangan dan tidak kekurangan air. Menariknya, tidak ada kasus stunting di Boti, padahal Kabupaten Timor Tengah Selatan memiliki angka stunting yang sangat tinggi, mencapai 45 persen pada 2022.

"Alam telah memberi makan. Kami tidak butuh bantuan, karena itu hanya untuk pencuri," ujar Usif Namah Benu. Di Boti, hukuman bagi pencuri ayam adalah diberi bantuan ayam, sebuah sanksi yang dianggap sangat memalukan.

Selama beberapa kali berkunjung ke Boti, saya sering melihat Usif bekerja seperti warga biasa. Ia pergi ke ladang, bahkan paling depan saat membersihkan jalan. Prinsipnya, pemimpin harus berada di depan saat bekerja dan paling belakang saat makan. Sikap Raja Boti yang sederhana, bekerja bersama rakyat, dan mendahulukan kepentingan orang lain, sangat kontras dengan perilaku pemimpin politik saat ini.

Pertanyaannya, siapa raja yang sesungguhnya?

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags