Kritik Pedas Warganet terhadap Kepemimpinan Prabowo: Sebuah Pelajaran Mahal bagi Bangsa

- Kamis, 30 Juli 2026 | 06:40 WIB
Kritik Pedas Warganet terhadap Kepemimpinan Prabowo: Sebuah Pelajaran Mahal bagi Bangsa

Sejumlah warganet melontarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Dalam unggahan di media sosial, mereka menyebut masa pemerintahannya sebagai pelajaran mahal yang harus dicatat dalam sejarah bangsa. Kritik itu datang dari berbagai akun yang menyoroti kebijakan dan gaya kepemimpinan yang dinilai tidak sesuai harapan.

Seorang pengguna dengan nama papabrilliant menuliskan tiga poin pelajaran yang bisa dipetik. Pertama, berhenti memilih pemimpin karena rasa kasihan atau sekadar suka karena atraksi hiburan. Kedua, jangan mudah tertipu oleh janji-janji yang terlalu manis dan tidak masuk akal. Ketiga, tidak memilih lagi pemimpin dari generasi baby boomers. Ia juga mengajak warganet lain untuk menambahkan poin tambahan.

Kritik lain datang dari akun juncakcakjun yang membandingkan Indonesia dengan Vietnam. Menurutnya, pemimpin Indonesia masih berpola pikir seperti tahun 1950-an, sementara pemimpin Vietnam sudah seperti tahun 2050-an. Akibatnya, Indonesia dinilai sangat tertinggal zaman.

Akun machida022023 menyoroti lemahnya logika dalam pengambilan keputusan. Ia mencontohkan laporan tentang penggilingan padi yang disebut untung Rp2 triliun per hari tanpa ada crosscheck dan validasi. Ia juga menyebut klaim bahwa Indonesia lebih baik dari Jepang dalam menyediakan Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah sebagai contoh ketidaklogisan lainnya.

Seorang pengguna dengan nama nopita_lolita menyatakan bahwa banyak rakyat tidak menyadari negara sedang sekarat akibat program-program yang dinilainya bodoh. Sementara itu, akun necessary_update menulis bahwa generasi masa depan mungkin akan menertawakan dan menganggap generasi sekarang bodoh, tolol, amoral, goblok, dan bajingan. Ia berharap kesalahan serupa tidak terulang lagi.

Unggahan-unggahan ini menjadi cerminan kekecewaan sebagian masyarakat terhadap arah kebijakan dan kinerja pemerintahan saat ini. Meski demikian, kritik tersebut belum mendapatkan tanggapan resmi dari pihak istana.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags