Industri Reasuransi RI Hadapi Tekanan Ganda: Modal Terbatas dan Risiko Global Mengintai

- Rabu, 29 Juli 2026 | 21:20 WIB
Industri Reasuransi RI Hadapi Tekanan Ganda: Modal Terbatas dan Risiko Global Mengintai

Industri reasuransi Indonesia kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, risiko global seperti perubahan iklim, serangan siber, dan proyek-proyek bernilai besar semakin kompleks. Di sisi lain, penguatan permodalan dan daya saing menjadi pekerjaan rumah yang mendesak agar sektor ini mampu menopang pertumbuhan asuransi nasional.

Direktur Teknik Operasi Indonesia Re, Delil Khairat, menegaskan bahwa peran reasuransi telah bergeser. Tidak lagi sekadar "insurance for insurers," melainkan fondasi stabilitas industri keuangan dan pendukung aktivitas ekonomi nasional. "Karena itu, penguatan kapasitas reasuransi menjadi kebutuhan strategis agar industri mampu menjawab tantangan pembangunan dan risiko yang terus berkembang," ujarnya, Rabu (29/7/2026).

Menurut Delil, tantangan semakin besar seiring munculnya risiko baru: dampak perubahan iklim, transformasi digital, dan ancaman kejahatan siber yang membutuhkan kapasitas perlindungan lebih kuat. Namun, persoalan struktural masih membayangi, terutama dari sisi permodalan dan daya saing dibandingkan perusahaan reasuransi global.

"Perusahaan reasuransi bertugas mengambil alih risiko-risiko yang lebih besar dan lebih volatil. Secara natural, kekuatan finansialnya semestinya lebih besar dibandingkan perusahaan asuransi," katanya. Ia menambahkan, diversifikasi portofolio secara geografis juga menjadi kunci agar risiko tidak terkonsentrasi pada satu wilayah karakteristik utama reasuransi global dalam menjaga ketahanan saat terjadi bencana besar.

Namun, Delil menilai kapabilitas teknis tidak kalah penting. "Capability berarti memiliki kemampuan teknis, mulai dari pengembangan produk, inovasi, sampai membantu perusahaan asuransi mengelola portofolio risikonya secara lebih efektif," ujarnya.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Cipto Hartono, menyoroti masalah kepercayaan masyarakat. "PR terbesar industri saat ini adalah trust issue. Beberapa kasus besar yang pernah terjadi membuat sebagian masyarakat mengeneralisasi seluruh industri asuransi," katanya. Menurutnya, penguatan tata kelola, transparansi, dan peningkatan kualitas layanan menjadi faktor penting untuk memulihkan kepercayaan publik sekaligus mendorong penetrasi asuransi.

Delil menambahkan, kolaborasi antara pelaku industri dan regulator diperlukan agar reasuransi mampu memperkuat ketahanan sektor keuangan dan menghadapi risiko yang terus berkembang.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags