Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok pada perdagangan Rabu (29/7/2026), melanjutkan tren negatif untuk hari keenam beruntun. Hingga pukul 10.10 WIB, indeks ambles 1,35 persen ke posisi 6.047,87, mengikis habis reli yang sempat terjadi pada 20 hari pertama Juli.
Nilai transaksi tercatat Rp13,71 triliun, dengan dominasi dari pasar negosiasi sebesar Rp9,56 triliun. Sebanyak 543 saham tertekan, sementara hanya 138 saham yang berhasil menguat dan 284 saham stagnan. Saham-saham konglomerasi dan perbankan berkapitalisasi besar menjadi beban utama indeks pada sesi pagi.
Pelaku pasar kini mencermati sejumlah sentimen kunci yang diperkirakan akan menentukan arah indeks dalam jangka pendek. BRI Danareksa Sekuritas mencatat, transisi kepemimpinan Bank Indonesia menjadi perhatian utama setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri. Destry Damayanti kini menjabat sebagai Pelaksana Tugas Gubernur BI, sementara pasar menanti penetapan gubernur definitif di tengah tekanan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian global.
“Selama kepastian dari sentimen-sentimen tersebut belum terbentuk, pergerakan IHSG berpotensi tetap volatil dengan investor cenderung bersikap selektif,” tulis BRI Danareksa dalam risetnya.
Dari eksternal, perhatian tertuju pada hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC). The Fed diperkirakan kembali mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50-3,75 persen untuk kelima kalinya berturut-turut. Namun, investor akan menyimak proyeksi suku bunga terbaru serta pernyataan Ketua The Fed yang bisa memengaruhi dolar AS dan aset berisiko di negara berkembang.
Rupiah yang terus melemah mendekati level Rp18.100 per dolar AS turut membayangi. Tekanan dolar dan ketidakpastian transisi BI dinilai berpotensi menekan saham dengan ekspor impor tinggi serta mengganggu arus modal asing.
Di sisi lain, harga minyak dunia kembali merangkak naik. Brent melonjak lebih dari 4 persen ke kisaran USD88 per barel setelah ketegangan Iran-AS memanas, ditambah data stok minyak mentah AS yang turun 3,3 juta barel. Kenaikan ini berisiko meningkatkan inflasi global dan membebani rupiah serta subsidi energi, meski dapat menjadi katalis positif bagi saham sektor energi dan migas.
Phintraco Sekuritas menilai level 6.000 menjadi area support kuat bagi IHSG. Namun, selama kepastian sentuhan belum terbentuk, volatilitas diperkirakan masih tinggi.
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 1,5 Persen, Tensi Geopolitik dan Rapat The Fed Jadi Pemicu
Rupiah Tembus Rp 18.100 per Dolar AS Usai Perry Warjiyo Mundur
Pemerintah Optimistis Destry Damayanti Jaga Stabilitas Ekonomi di Tengah Transisi Kepemimpinan BI
BI Perkuat Bauran Kebijakan Moneter untuk Jaga Stabilitas Rupiah