Sikap tegas Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang melarang warga Israel menginjakkan kaki di negaranya membuatnya mendapat julukan Macan Asia. Sebaliknya, Presiden Prabowo Subianto justru dijuluki Meong Lansia oleh netizen karena dianggap kurang berani dalam menyikapi agresi Israel terhadap Palestina.
Pada 15 Juli 2026, Anwar Ibrahim berbicara kepada wartawan di Kuala Lumpur setelah muncul laporan bahwa sejumlah warga negara Israel masuk ke Johor. Mereka diduga menggunakan paspor negara lain untuk menembus perbatasan. Anwar menegaskan pemerintah sedang menyelidiki kasus tersebut dan berjanji akan mengambil tindakan sesuai kebijakan Malaysia yang tidak mengakui entitas Israel.
"Kami sedang menyelidiki. Kami tidak akan mengizinkannya," ujar Anwar. "Jika ada warga negara Israel, karena kami tidak mengakui Israel, mereka akan segera dideportasi," tegasnya.
Pernyataan itu langsung mendapat respons keras dari delapan anggota Kongres Amerika Serikat. Pada 21 Juli 2026, mereka mengirim surat kepada Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan keprihatinan atas kebijakan deportasi tersebut. Mereka menilai kebijakan itu diskriminatif berdasarkan kewarganegaraan dan agama, serta bertentangan dengan nilai-nilai AS. Surat itu juga menyoroti hubungan diplomatik Malaysia dengan Hamas, dengan menuding Malaysia menyambut teroris tetapi menargetkan orang Yahudi. Para anggota Kongres pun mengancam akan menghentikan pendanaan program International Military Education and Training (IMET) jika kebijakan itu tidak diubah.
Meski mendapat tekanan, Anwar Ibrahim tidak bergeming. Pada 22 Juli 2026 di Seremban, Negeri Sembilan, ia kembali menegaskan komitmennya. "Kami tidak akan mengizinkan satu pun warga negara Israel menginjakkan kaki di Malaysia," katanya. Ia menyebut kebijakan itu telah berlaku puluhan tahun dan Malaysia tidak melanggar hukum internasional. Keesokan harinya, Kantor Perdana Menteri Malaysia mengunggah pernyataan resmi yang menegaskan pendirian tersebut.
Pada 24 Juli 2026, Anwar menjelaskan bahwa kebijakan itu bukan didasarkan pada kebencian terhadap pemeluk agama Yahudi, melainkan penolakan terhadap kejahatan Israel atas rakyat Palestina. "Ini bukan karena kami menghina orang Yahudi. Kami menentang kekejaman, penindasan, dan pendudukan oleh Israel," ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa Malaysia tidak bermusuhan dengan AS dan hubungannya dengan Presiden Donald Trump berjalan baik.
Prabowo dan Israel
Sejak Prabowo Subianto menjabat presiden, sikap tegas terhadap Israel belum terlihat. Dalam pertemuan dengan ormas Islam, Prabowo hanya memamerkan bantuan kemanusiaan dan fasilitas penampungan kuliah bagi warga Palestina. Ketika beberapa negara Eropa memutuskan hubungan dagang dengan Israel, Indonesia belum mengambil langkah serupa. Aktivitas ekspor-impor dengan Israel masih berlangsung.
Berbeda dengan Malaysia yang melarang warga Israel masuk, Indonesia justru membiarkan mereka datang. Bahkan, beberapa tentara Israel dikabarkan pernah berkunjung ke Bali. Mirisnya, aktivis kemanusiaan Palestina Abdul Karim Miqdad justru dideportasi ke Siprus pada 17 Juli 2026 atas tuduhan terlibat terorisme yang tidak jelas.
Selama Prabowo belum mengambil tindakan nyata seperti menghentikan hubungan dagang atau melarang warga Israel masuk dukungannya terhadap Palestina akan terus diragukan. Anwar Ibrahim telah menunjukkan keberanian teladan di Asia. Akankah Prabowo berani mengikuti jejak tegas tersebut?
Artikel Terkait
Prabowo Prioritaskan Listrik Desa, Proyek PLTS 100 GW Segera Dimulai
Presiden Prabowo Akan Lantik 1.204 Lulusan IPDN di Jatinangor
Prabowo Akan Langsung Lantik 1.204 Pamong Praja Muda IPDN, Beri Penghargaan untuk 10 Lulusan Terbaik
Kejagung Siapkan Pejabat dan Kantor Sementara untuk Tujuh Kejari Baru