Pemerintah Antisipasi El Nino Lebih Cepat dan Kebakaran Hutan

- Rabu, 29 Juli 2026 | 06:30 WIB
Pemerintah Antisipasi El Nino Lebih Cepat dan Kebakaran Hutan

Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah menteri dan kepala lembaga ke Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (28/7), untuk membahas langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta fenomena El Nino. Berdasarkan prediksi BMKG, siklus El Nino diperkirakan terjadi lebih cepat dari perkiraan awal.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, siklus El Nino yang biasanya terjadi empat tahunan seperti pada 2015, 2019, dan 2023 seharusnya baru akan terjadi lagi pada 2027. Namun, prediksi BMKG menunjukkan El Nino bisa datang tahun ini. "Jadi kekeringannya datang lebih cepat, ya, dan berakhirnya lebih lambat. Nah, itu tentu harus ada antisipasi," ujarnya usai rapat.

Menurut Raja Juli, karhutla perlu dicegah karena dampaknya luas, mulai dari gangguan kesehatan seperti ISPA hingga lumpuhnya aktivitas ekonomi. "Bandara tutup, sekolah tutup, pusat-pusat perekonomian berhenti. Jadi perlu sekali kita mengantisipasi karhutla ini," katanya.

AHY Siapkan Satgas

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk menekan dampak El Nino yang berhimpit dengan musim kemarau. Prioritas utama adalah kesiapan sumber daya air. "Misalnya, memastikan bendungan dan waduk kita memiliki debit air yang cukup untuk suplai air bersih, air baku, dan juga untuk mendukung irigasi," ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum, neraca air nasional masih memadai dan stok pangan aman. Namun, AHY mengingatkan agar tidak lengah karena intensitas El Nino berpotensi meningkat. Kepala BMKG juga menyampaikan adanya trendline yang harus diantisipasi, terutama terkait karhutla.

Pemerintah telah memetakan wilayah rawan karhutla, seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan baik lahan gambut maupun non-gambut. Langkah antisipasi meliputi penyiapan Satgas Darat dan Satgas Udara serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memadamkan titik api dan menjaga debit air di bendungan.

BMKG Ungkap El Nino Masuk Level Kuat

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan El Nino telah masuk kategori kuat. Indikatornya adalah suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang meningkat lebih dari 0,5 derajat Celsius di atas normal. "Jadi kita perlu mengantisipasi khususnya pada dua hal: kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan," ungkapnya.

Untuk mengurangi risiko, BMKG bersama BNPB akan melakukan OMC secara berkala. "Itu dilakukan untuk menjenuhkan tanah gambut agar tidak mudah terbakar," papar Faisal.

Siapkan Modifikasi Cuaca untuk Jakarta

Faisal mengatakan OMC juga akan dilakukan secara situasional di Jakarta apabila terjadi hari tanpa hujan dalam waktu cukup panjang. "Ketika kondisinya sudah hari tanpa hujan cukup panjang, maka dilakukan OMC dengan catatan ketika awan masih ada. Karena kalau tanpa awan kita tidak bisa memodifikasi," katanya.

BMKG akan bekerja sama dengan BPBD DKI Jakarta dalam pelaksanaan OMC. Mereka juga memasang ground-based generator di sejumlah gedung tinggi. "Jadi ketika nanti ada awan yang kira-kira 'sehat' untuk menghujankan Jakarta, maka akan dilepaskan uap air atau flare untuk kemudian terjadilah hujan," ujarnya.

Menurut Teuku, langkah ini dapat dilakukan jika Jakarta tidak diguyur hujan selama dua hingga tiga minggu. Kondisi tanpa hujan dalam waktu panjang juga dapat menurunkan kualitas udara Jakarta, sehingga OMC menjadi salah satu upaya perbaikannya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags