Johnson & Johnson akhirnya memilih jalur penyelesaian. Perusahaan farmasi dan perawatan kesehatan asal Amerika Serikat itu mengumumkan kesepakatan untuk membayar USD5,5 miliar atau setara Rp99,33 triliun guna menuntaskan sebagian besar gugatan kanker ovarium yang dikaitkan dengan produk bedak talc-nya.
Dalam pernyataan resmi pada Senin (27/7/2026), perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek New York dengan kode saham JNJ itu menyebutkan bahwa kesepakatan ini baru berlaku jika setidaknya 95 persen penggugat menyetujuinya. Jumlah klaim yang akan diselesaikan mencapai sekitar 76.000 perkara, yang sebagian besar masih tertunda dalam litigasi multidistrik federal dan proses pengadilan negara bagian.
Kesepakatan ini menjadi babak baru dari lebih dari 15 tahun pertarungan hukum yang membayangi Johnson & Johnson. Perusahaan mengklaim bahwa penyelesaian ini merupakan langkah efisien untuk mengakhiri sengketa yang panjang.
Langkah ini diambil tak lama setelah pengadilan litigasi multidistrik federal mengeluarkan putusan yang mempertanyakan kemampuan penggugat untuk membuktikan bahwa bedak talc perusahaan menyebabkan kanker ovarium. Dalam dua kasus percontohan, penggugat bahkan telah menarik ahli penyebab spesifik mereka sebelum pengadilan memerintahkan mereka untuk menunjukkan alasan klaim lainnya tidak boleh ditolak.
Meski demikian, Johnson & Johnson menegaskan bahwa mereka tetap yakin akan menang jika kasus ini dilanjutkan ke pengadilan. Namun, perusahaan memilih menyelesaikan perkara ini untuk menghilangkan biaya dan ketidakpastian litigasi yang berkepanjangan.
Dalam kesepakatan yang diusulkan, pembayaran pertama tidak akan melebihi USD3 miliar dan akan dilakukan pada 2027. Tidak ada pembayaran tambahan yang dijadwalkan sebelum 2028.
Johnson & Johnson terus mempertahankan bahwa penelitian ilmiah selama beberapa dekade mendukung keamanan bedak kosmetik dan bahwa produk bedaknya tidak mengandung asbes atau menyebabkan kanker. Perusahaan telah menghentikan produksi Johnson's Baby Powder berbahan dasar bedak secara global pada 2023 dan mempertahankan semua kewajiban terkait bedak setelah pemisahan bisnis kesehatan konsumennya ke Kenvue.