Di tengah ketegangan hubungan Iran dan Amerika Serikat yang kerap menjadi sorotan, ada kisah lain yang berkembang selama puluhan tahun: perjalanan para imigran Iran yang berhasil membangun bisnis, berinovasi, dan mengumpulkan kekayaan di Negeri Paman Sam. Berdasarkan daftar Imigran Terkaya di Amerika 2026 versi Forbes, tujuh pengusaha kelahiran Iran masuk dalam jajaran orang terkaya di AS.
Mereka membangun kerajaan bisnis di berbagai sektor, mulai dari teknologi periklanan berbasis kecerdasan buatan (AI), private equity, antariksa, energi, perangkat medis, panel surya, investasi, hingga bioteknologi. Total kekayaan ketujuhnya mencapai 31,1 miliar dolar AS atau setara Rp560,35 triliun (kurs Rp18.020 per dolar AS). Menariknya, seluruh perjalanan mereka bermula dari Iran, namun menurut daftar real time billionaires Forbes, tidak ada miliarder yang membangun kekayaannya langsung di Iran.
Adam Foroughi memimpin daftar dengan kekayaan bersih 18,9 miliar dolar AS (Rp340,54 triliun). Ia mendirikan perusahaan teknologi periklanan berbasis AI AppLovin pada 2011 dan hingga kini menjabat sebagai CEO. Perusahaan yang berbasis di AS itu melantai di bursa sekitar satu dekade kemudian setelah sebelumnya berkembang secara mandiri. Forbes memperkirakan Foroughi memiliki sekitar 11 persen saham AppLovin. Kekayaannya bertambah paling besar di antara nama-nama dalam daftar ini, naik sekitar 6,3 miliar dolar AS dibandingkan tahun sebelumnya. Per 8 Juli 2026, saham AppLovin naik 51,4 persen dalam setahun menjadi 522,2 dolar AS per saham. Pria berusia 46 tahun itu menempati posisi ke-10 dalam daftar Imigran Terkaya di Amerika 2026.
Behdad Eghbali berada di posisi kedua dengan kekayaan bersih 3,9 miliar dolar AS (Rp70,27 triliun). Ia merupakan salah satu pendiri sekaligus Managing Partner Clearlake Capital, perusahaan ekuitas swasta yang berdiri pada 2006 dan mengelola aset lebih dari 185 miliar dolar AS. Lahir di Iran, Eghbali pindah ke AS saat masih kecil dan lulus dari Haas School of Business, University of California Berkeley. Clearlake dikenal aktif mengakuisisi perusahaan perangkat lunak, industri, dan produk konsumen. Pada 2022, perusahaan ini bersama investor Todd Boehly mengakuisisi klub sepak bola Inggris Chelsea FC, dengan Eghbali sebagai salah satu pemiliknya. Pada Juni 2026, Clearlake berhasil menghimpun komitmen modal sebesar 14,8 miliar dolar AS untuk dana investasi utamanya yang kedelapan. Dana tersebut akan difokuskan pada investasi di bidang AI, modernisasi perangkat lunak, transformasi digital, dan efisiensi operasional. Meski demikian, kekayaan Eghbali turun sekitar 500 juta dolar AS dibandingkan tahun lalu.
Kamal Ghaffarian menempati posisi ketiga dengan kekayaan bersih 3,1 miliar dolar AS (Rp55,85 triliun). Ia dikenal sebagai pengusaha serial yang mendirikan sejumlah perusahaan seperti Axiom Space, Intuitive Machines, dan X-Energy, yang bergerak di bidang stasiun luar angkasa komersial, pendarat Bulan, hingga reaktor nuklir modular kecil. Ghaffarian pindah ke AS saat berusia 18 tahun untuk menempuh pendidikan tinggi. Sebelumnya, ia membangun perusahaan teknik SGT, yang kemudian menjadi penyedia jasa teknik terbesar kedua bagi NASA sebelum dijual kepada KBR senilai 355 juta dolar AS pada 2018. Pada Februari 2024, pendarat Bulan Odysseus milik Intuitive Machines mencatat sejarah sebagai wahana Amerika pertama yang berhasil mendarat di Bulan sejak 1972. Kekayaannya meningkat sekitar 600 juta dolar AS dalam setahun.
Jahm Najafi memiliki kekayaan bersih 1,7 miliar dolar AS (Rp30,63 triliun). Ia mendirikan Najafi Companies pada 2002, perusahaan investasi swasta yang memiliki portofolio di sektor ritel, e-commerce, olahraga, media, hingga pariwisata. Lahir di Iran, Najafi pindah ke AS pada usia 12 tahun dan kemudian menempuh pendidikan di University of California Berkeley serta Harvard University. Ia pernah memiliki saham di klub basket Phoenix Suns dan tim McLaren Racing. Najafi juga menandatangani Giving Pledge, komitmen untuk menyumbangkan sedikitnya separuh kekayaannya selama hidup atau setelah meninggal dunia. Kekayaannya bertambah sekitar 400 juta dolar AS.
Joe Kiani tercatat memiliki kekayaan bersih 1,3 miliar dolar AS (Rp23,42 triliun). Ia mendirikan Masimo Corporation pada 1989, perusahaan teknologi kesehatan asal California yang mengembangkan alat pemantauan pasien noninvasif. Pada Februari 2026, Danaher Corporation sepakat mengakuisisi Masimo dengan nilai sekitar 9,9 miliar dolar AS. Selain itu, Kiani juga mendirikan Willow Laboratories, perusahaan yang berfokus pada inovasi pemantauan kesehatan noninvasif dan pengembangan teknologi perawatan diabetes. Kekayaannya tercatat tetap dibandingkan tahun sebelumnya.
Farhad Ebrahimi kembali masuk daftar miliarder Forbes tahun ini dengan kekayaan bersih 1,2 miliar dolar AS (Rp21,62 triliun). Ia mendirikan perusahaan perangkat lunak penerbitan Quark pada era 1980-an, yang kemudian dijual kepada Platinum Equity pada 2011. Selain itu, Ebrahimi merupakan investor besar di produsen panel surya First Solar serta memiliki portofolio pertanian yang luas di Hawaii, termasuk kepemilikan mayoritas pada produsen kacang Royal Hawaiian Orchards. Ia pertama kali menjadi miliarder pada Maret 2023 setelah saham First Solar melonjak. Sempat keluar dari daftar miliarder, Ebrahimi kembali masuk pada 2026 seiring kenaikan saham First Solar sebesar 26,7 persen dalam setahun.
Maky Zanganeh melengkapi daftar dengan kekayaan bersih 1 miliar dolar AS (Rp18,01 triliun). Ia menjabat sebagai Co-CEO sekaligus Presiden Summit Therapeutics, perusahaan biofarmasi yang mengembangkan terapi kanker. Zanganeh lahir di Teheran, kemudian bermigrasi ke Jerman dan Prancis sebelum akhirnya menetap di AS. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Chief Operating Officer Pharmacyclics, perusahaan yang diakuisisi AbbVie senilai 21 miliar dolar AS pada 2015. Forbes memperkirakan ia memiliki hampir 5 persen saham Summit Therapeutics. Meski kekayaannya turun sekitar 200 juta dolar AS, Zanganeh tetap masuk dalam daftar America's Richest Immigrants 2026, meski belakangan keluar dari daftar real time miliarder Forbes.