PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) mencatat pendapatan yang relatif stabil pada semester pertama 2026, namun laba bersihnya tertekan akibat kenaikan beban operasional dan beban pokok penjualan. Perusahaan bahan kimia dan bahan peledak untuk pertambangan ini membukukan pendapatan sebesar USD76,33 juta atau sekitar Rp1,37 triliun pada JanuariāJuni 2026, naik tipis dari USD76,08 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Meski pendapatan meningkat, laba periode berjalan anjlok menjadi USD1,06 juta dari USD5,86 juta pada semester I-2025. EBITDA juga turun menjadi USD10,51 juta dari USD15,20 juta. Penurunan ini dipicu oleh beban pokok penjualan yang naik menjadi USD57,39 juta dari USD53,45 juta, serta beban operasional yang meningkat menjadi USD15,06 juta dari USD12,24 juta. Akibatnya, laba operasi merosot dari USD10,39 juta menjadi USD3,88 juta.
Bisnis bahan kimia dan bahan peledak untuk pertambangan masih menjadi penopang utama, menyumbang sekitar 95 persen dari total pendapatan konsolidasian. Sementara itu, pendapatan dari bisnis solusi peledakan naik 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi USD25 juta.
Direktur Utama Ancora, Ratno Paskalis Hendrawan, mengatakan perseroan tetap mampu mempertahankan kinerja yang tangguh di tengah dinamika industri. "Ancora membukukan pendapatan yang stabil sebesar USD76,33 juta pada semester pertama tahun 2026, mencerminkan permintaan yang tetap solid di bisnis inti bahan kimia dan bahan peledak pertambangan yang terintegrasi secara vertikal," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (27/7/2026).
Pria yang akrab disapa Ale itu menambahkan, perseroan membukukan laba bruto sebesar USD18,94 juta dan EBITDA sebesar USD10,51 juta, masing-masing meningkat 40 persen dan 96 persen secara kuartalan. "Ancora tetap berada pada posisi yang baik untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan sekaligus terus mendukung kebutuhan strategis industri pertambangan dalam jangka panjang," katanya.
Dari sisi neraca, Ancora mencatat total aset sebesar USD157,63 juta per 30 Juni 2026 dengan total ekuitas USD56,84 juta. Saldo kas mencapai USD7,52 juta atau sekitar 5 persen dari total aset. Perseroan juga mempertahankan struktur permodalan yang sehat dengan rasio net gearing 0,57 kali dan current ratio 1,29 kali.
Ke depan, Ancora optimistis prospek bisnis hingga akhir 2026 tetap positif seiring potensi revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang diperkirakan dapat meningkatkan aktivitas pertambangan pada semester II-2026. Perseroan juga melihat peluang pertumbuhan dari ekspor amonium nitrat dan aksesori peledak di kawasan Asia Pasifik, serta diversifikasi pelanggan di luar sektor pertambangan.
Selain itu, Ancora menargetkan pabrik booster di Handil, Kalimantan Timur mulai beroperasi pada 2027 untuk memperkuat rantai nilai terintegrasi sekaligus menjadi pendorong pertumbuhan pendapatan dan laba jangka panjang.