Kontroversi Bang Faiq: Antara Personifikasi Nabi Isa dan Sensitivitas Umat

- Jumat, 24 Juli 2026 | 06:40 WIB
Kontroversi Bang Faiq: Antara Personifikasi Nabi Isa dan Sensitivitas Umat

Fenomena Bang Faiq yang viral di media sosial memicu beragam reaksi, terutama dari netizen. Namun, menurut pengamat, tidak ada unsur penghinaan dalam personifikasi yang dilakukan Bang Faiq terhadap Nabi Isa AS.

Bang Faiq, yang dikenal sebagai kreator konten, menuai pro dan kontra setelah unggahannya dikaitkan dengan penggambaran Nabi Isa. Sejumlah pihak menilai hal itu tidak pantas, sementara yang lain menganggapnya sebagai ekspresi kreatif yang tidak bermaksud melecehkan.

Seorang pengamat menekankan bahwa sebagai seorang muslim, Bang Faiq tetap mengakui Nabi Isa sebagai rasul utusan Allah untuk Bani Israil. Masalahnya, tidak ada gambaran otentik tentang wajah Nabi Isa. Gambaran yang kita kenal selama ini justru berasal dari lukisan pelukis asal Amerika, Warner Sallman, yang mengaku mendapat penglihatan dalam mimpi sadar.

Dari segi genetika, Nabi Isa berasal dari Bani Israil yang masih satu rumpun dengan bangsa Arab. Oleh karena itu, kemungkinan besar Nabi Isa berkulit cokelat, bukan bermata biru dan berambut pirang seperti yang sering digambarkan. "Jadi, ya mungkin mirip-mirip Bang Faiq juga. Karena Bang Faiq-nya keturunan Arab bermarga Alkatiri. Berarti ngga salah tapi belum tentu benar," ujar pengamat.

Menariknya, tanggapan dari kalangan non-Muslim mayoritas biasa saja. Mereka menilai personifikasi Bang Faiq tidak mengandung unsur merendahkan, berbeda dengan parodi Nabi Isa di Eropa yang kerap bernada hinaan.

Dalam Islam, larangan menggambar wajah nabi dan rasul bertujuan untuk menjaga kehormatan mereka. "Nabi dan Rasul itu orang-orang suci. Wajib dijaga kehormatannya dan tidak boleh dijadikan bahan lelucon," tegas pengamat. Sebaliknya, di tradisi lain, satir tentang tokoh suci lebih lazim dan responsnya cenderung ringan, seperti protes atau boikot.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags