The Odyssey: Tamparan Kemanusiaan di Tengah Perang Global

- Kamis, 23 Juli 2026 | 12:55 WIB
The Odyssey: Tamparan Kemanusiaan di Tengah Perang Global

Film The Odyssey (2026) garapan Christopher Nolan resmi tayang di bioskop nasional sejak 15 Juli lalu. Lebih dari sekadar tontonan, film ini sarat pesan moral yang relevan dengan kondisi dunia saat ini.

Jika Mahabharata dianggap sebagai rujukan politik, maka The Odyssey yang diangkat dari 24 buku karya Homeros adalah rujukan utama untuk memahami filosofi kemanusiaan dalam perang. Kisah ini tidak hanya bercerita tentang strategi perang atau tipu muslihat, melainkan juga tentang penyesalan mendalam yang ditinggalkan perang bagi para pelakunya. Di tengah konflik global yang tak kunjung reda, The Odyssey layak disimak kembali.

Penyesalan Odysseus

Tokoh sentralnya adalah Odysseus, Raja Ithaca yang termasyhur. Bersama ribuan prajurit, ia berlayar menyerang Kerajaan Troy. Dengan muslihat patung kuda raksasa, pasukan Ithaca dengan mudah menembus benteng Troy pada malam hari. Namun, malam itu berubah menjadi pembantaian. Seluruh warga Troy tanpa pandang usia dan jenis kelamin dibantai. Darah membanjiri kerajaan, dan prajurit Ithaca merayakan kemenangan dengan pesta pora.

Kemenangan itu justru menjadi kutukan. Dalam perjalanan pulang, Odysseus dan pasukannya tersesat. Mereka berhadapan dengan monster bermata satu Polyphemos, penyihir Circe yang mengubah prajurit menjadi hewan, hingga monster laut Scylla dan Charybdis yang menghancurkan kapal. Hanya Odysseus yang selamat, terdampar di Pulau Ogygia selama tujuh tahun. Berkat bantuan dewa, ia akhirnya pulang ke Ithaca yang dilanda kekacauan.

Bukan Sekadar Fiksi

Meski fiksi, Homeros dan Christopher Nolan menyajikan kisah yang hidup dan relevan. Perang memang menentukan pemenang dan pecundang, tetapi keduanya sama-sama hancur. Troy menjadi abu, namun prajurit Ithaca tewas di laut karena kecongkakan. Odysseus dan Agamemnon dibekap penyesalan atas perang tak adil dan prajurit yang tewas tanpa penghormatan.

Kisah yang ditulis pada abad ke-7 hingga ke-8 SM ini menjadi tamparan bagi kemanusiaan. Perang telah menjadi ritus yang terus berulang, tanpa dialektika. Homeros memperingatkan, namun peringatannya kerap diabaikan. Perang Salib, Perang Dunia I dan II hanyalah segelintir contoh yang menegasikan pesan Homeros.

Perang Hari Ini

Kini, perang kembali berkecamuk. Dunia tak lagi multipolar, melainkan diwarnai rivalitas negara besar yang anarkis. Israel dengan mudah melanggar hukum internasional saat menginvasi Palestina, menyerang fasilitas sipil dan kelompok non-kombatan. Di bawah Netanyahu, serangan serupa terjadi di Lebanon, bahkan menewaskan pasukan perdamaian PBB.

Situasi serupa terjadi antara AS dan Iran sejak 28 Februari lalu. AS terprovokasi Israel untuk berperang tanpa argumentasi jelas, mengulangi kesalahan seperti invasi Irak 2003 yang didasari tuduhan palsu soal senjata pemusnah massal. Iran telah terbuka pada inspeksi IAEA, namun AS lebih memilih membela sekutu yang menunggangi mereka.

Harapan

Publik berharap para pemimpin agresor seperti Trump dan Netanyahu mendapat pencerahan seperti Odysseus. Namun, pencerahan itu mahal. Odysseus dihukum sepuluh tahun sebelum sadar, dan pun ia harus membereskan kekacauan yang ditimbulkan. Tak semua penjahat perang mendapat kesempatan itu. Hitler dan Mussolini tewas mengenaskan. Kira-kira, Trump dan Netanyahu akan berakhir seperti apa?

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags