Amerika Serikat mengakhiri operasi militer terhadap Iran pada Rabu (22/7) malam, setelah 12 malam berturut-turut melancarkan serangan. Operasi yang berlangsung hampir dua pekan itu dilakukan atas perintah langsung Presiden Donald Trump.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa pasukan Amerika menghantam target-target militer Iran, termasuk kemampuan maritim, fasilitas rudal dan penyimpanan drone, pos pengamatan pantai, serta aset pertahanan udara. Serangan pada malam terakhir itu berlangsung selama lima jam.
Sepanjang Juli 2026, AS telah menghantam puluhan sasaran militer di wilayah Iran. Secara bersamaan, Washington juga memblokade jalur pelayaran menuju pelabuhan-pelabuhan Iran.
Perang di Iran bermula setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke negara itu pada 28 Februari 2026. Iran kemudian membalas dengan menyerang Israel serta sejumlah negara di Timur Tengah yang menjadi lokasi fasilitas militer AS.
Rangkaian konflik antara AS dan Israel melawan Iran telah menyebabkan ribuan orang tewas. Di saat yang sama, jutaan warga sipil terpaksa mengungsi akibat perang. Sementara itu, AS menyatakan 18 personel militernya tewas dalam beberapa hari terakhir akibat serangan Iran.
Artikel Terkait
Trump Kaitkan Kesepakatan Nuklir dengan Arab Saudi dengan Pengakuan terhadap Israel
Iran Tolak Proposal Gencatan Senjata AS, Ogah Kompromi Soal Selat Hormuz
Trump Umumkan Tarif Baru untuk 60 Negara, Jepang dan Korsel Kena 12,5 Persen
Iran Tolak Proposal Gencatan Senjata AS yang Disampaikan Lewat PM Irak