Trump Larang Negara Lain Pungut Biaya Tol di Selat Hormuz, Kecuali AS

- Minggu, 21 Juni 2026 | 07:45 WIB
Trump Larang Negara Lain Pungut Biaya Tol di Selat Hormuz, Kecuali AS

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa tidak akan ada pungutan biaya tol bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, kecuali jika pemungutan itu dilakukan oleh Amerika Serikat sendiri. Pernyataan ini disampaikan Trump di tengah ketegangan yang masih menyelimuti jalur pelayaran strategis tersebut pasca-perang antara AS dan Israel melawan Iran.

Dalam unggahannya di platform Truth Social pada Sabtu lalu, Trump menyebutkan bahwa larangan biaya tol berlaku selama 60 hari ke depan, bertepatan dengan masa gencatan senjata. Ia juga menambahkan bahwa setelah periode tersebut berakhir, kebijakan serupa tetap berlaku kecuali jika Amerika Serikat yang memungutnya sebagai bentuk penggantian biaya atas perannya sebagai pelindung negara-negara Timur Tengah.

"Tidak akan ada biaya tol di Selat Hormuz selama 60 hari selama Periode Gencatan Senjata, dan tidak akan ada biaya tol setelah periode 60 hari berakhir," tulis Trump dalam pernyataannya.

"Kecuali jika dikenakan oleh dan untuk Amerika Serikat, jika kesepakatan tidak tercapai, untuk layanan yang diberikan sebagai Malaikat Pelindung bagi negara-negara Timur Tengah untuk tujuan penggantian biaya di masa lalu, sekarang, dan masa depan," lanjutnya.

Sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu, Selat Hormuz telah menjadi alat tekanan utama bagi Teheran. Iran sempat menutup jalur air tersebut untuk lalu lintas kapal, menggunakannya sebagai senjata geopolitik dalam konflik yang melibatkan kekuatan besar dunia.

Namun, berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani pada Rabu pekan lalu, selat itu seharusnya dibuka kembali untuk sementara waktu selama 60 hari. Dalam kesepakatan tersebut, Iran juga dilarang memungut biaya dari kapal-kapal yang melintas.

Di sisi lain, Komando Militer Pusat Iran baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka kembali menutup Selat Hormuz. Langkah ini diambil sebagai respons atas serangan Israel ke Lebanon selatan yang dinilai Tehran sebagai pelanggaran terhadap perjanjian yang telah disepakati dengan Amerika Serikat.

"Dengan ini diumumkan bahwa Selat Hormuz akan ditutup untuk lalu lintas kapal. Perlu dicatat bahwa langkah pertama ini adalah tanggapan terhadap pelanggaran janji musuh, dan jika agresi berlanjut, langkah-langkah lebih lanjut akan direncanakan dan diambil untuk memaksa musuh mematuhi kewajibannya," demikian pernyataan Markas Besar Pusat Khatam-al Anbiya yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran.

Sementara itu, militer Amerika Serikat menegaskan bahwa mereka tetap siaga di jalur pelayaran penting tersebut. Komando Pusat AS, atau CENTCOM, menyatakan bahwa pasukan mereka hadir dan waspada untuk memastikan seluruh aspek perjanjian dengan Iran dipatuhi sepenuhnya.

"Pasukan AS tetap hadir dan waspada untuk memastikan semua aspek perjanjian dengan Iran dipatuhi, dipatuhi, dan berlaku penuh," kata CENTCOM dalam pernyataan resminya.

Menurut data CENTCOM, sebanyak 55 kapal komersial berhasil melintasi Selat Hormuz pada hari Sabtu. Pihak militer AS juga menegaskan bahwa jalur aman melalui perairan internasional tersebut masih tetap terjaga hingga saat ini.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags