Ada ironi yang menganga di tengah hiruk-pikuk akhir pekan menuju kawasan Puncak atau Lembang. Di satu sisi, kemacetan panjang seolah menjadi bukti geliat pariwisata yang tak terbendung. Namun, di sisi lain, di balik kaca mobil yang berderet itu, tersimpan kisah tentang kelas menengah yang kian terimpit, yang tetap memaksakan diri untuk berlibur meski dompet sedang menjalani diet ketat. Fenomena ini mengingatkan pada lirik lagu Iwan Fals, “Libur Kecil Kaum Kusam”, yang dirilis pada 1987, sebuah karya yang dengan jujur menggambarkan getirnya kehidupan kaum marginal yang tetap berkeras menyisihkan waktu untuk rekreasi agar tidak kehilangan kewarasan.
Hampir empat puluh tahun berlalu, makna lagu itu justru kian relevan. Jika dahulu kisah tersebut hanya lekat dengan kaum pekerja rendahan, kini pola yang sama mulai menjalari gaya hidup kelas menengah. Di tengah tekanan ekonomi yang tak keruan, mereka tetap menyempatkan diri untuk menghibur diri, meski dengan anggaran yang super ketat. Tak perlu destinasi jauh atau mahal, yang penting bisa sejenak melepas penat sebelum beban hidup yang menumpuk bermutasi menjadi depresi. “Berilah tawa yang terkeras untuk obati tangis lalu,” demikian sepenggal lirik yang seolah menjadi mantra bagi mereka yang terus berjuang melawan tekanan finansial.
Kelas menengah, yang dulu digadang-gadang sebagai tulang punggung ekonomi, kini benar-benar berada dalam posisi terjepit. Harga kebutuhan pokok yang konsisten meninggi, cicilan utang yang tak bisa ditunda, dan pendapatan yang tak kunjung naik, membuat setiap hari dompet mereka dipaksa berhemat. Dalam situasi seperti ini, rekreasi tidak lagi dipandang sebagai pilihan sekunder, melainkan sebuah keharusan untuk mempertahankan kewarasan. Namun, syaratnya satu: agar niat menjaga kesehatan mental itu tidak malah menciptakan beban baru, aktivitas liburan atau yang kini populer disebut healing itu harus dilakukan seirit mungkin.
Fenomena healing irit ini bukan sekadar narasi, melainkan fakta di lapangan. Data perilaku wisatawan domestik belakangan ini menunjukkan bahwa lonjakan mobilitas tidak berbanding lurus dengan belanja. Toko oleh-oleh terlihat lengang, dan para pedagang di lokasi wisata mengeluhkan sepinya transaksi. Kelas menengah kini cenderung memilih destinasi bertarif murah, bahkan gratis. Di dalam mobil-mobil yang terjebak macet, bekal nasi kotak dan botol minum dari rumah menjadi “senjata” utama agar liburan tidak menguras tabungan. Mereka tetap berwisata, tetapi dengan kalkulasi anggaran yang sangat ketat.
Kondisi ini seharusnya menjadi catatan kritis bagi pemerintah. Jangan sampai kegemilangan angka kunjungan wisatawan membuat para pemangku kebijakan terlena. Membanggakan statistik pariwisata di saat daya beli masyarakat sedang megap-megap adalah sebuah ironi yang tidak lucu. Negara mestinya tersentak saat melihat realitas ini, di mana warga kelas menengah akhirnya memilih lari dari tekanan berat dengan rekreasi murah yang dipaksakan. Jika healing pun harus dilakukan dengan strategi bertahan hidup karena takut dompet jebol, itu bukanlah tanda kesejahteraan. Itu adalah alarm bahwa fondasi ekonomi kelas menengah sedang retak.
Alih-alih terus mengglorifikasi potensi sektor pariwisata atau menonjolkan teori bahwa sektor itu akan diuntungkan oleh pelemahan rupiah, para pengambil kebijakan sudah saatnya berhenti menyilaukan mata dengan angka-angka pertumbuhan semu. Kelas menengah tidak butuh narasi optimisme kosong. Mereka butuh kebijakan yang meringankan beban biaya hidup agar tidak perlahan-lahan turun kelas. Negara mesti memberikan atensi dan intervensi yang layak agar kelas menengah, yang dulu menjadi tulang punggung ekonomi nasional, tidak semakin kehilangan arah. Jangan sampai karena abainya negara, wajah kelas menengah kita benar-benar menjadi kusam. Taruhannya terlalu besar; masa depan bangsa ini terancam suram bila kelas menengah terus dibiarkan tenggelam dalam kusam.
Artikel Terkait
Hendropriyono Bantah Keras Tuduhan Terlibat Rencana Kudeta dalam Video Viral
MUI Sambut Baik Kesepakatan Damai AS-Iran, Desak Penghentian Agresi Israel di Gaza
Harga Emas Antam Naik Rp4.000 per Gram, Buyback Melonjak Rp14.000
Kritik Mengalir, Jakarta Fair 2026 Dinilai Kehilangan Esensi Pesta Rakyat karena Tiket Mahal