Pertemuan antara Irak dan Norwegia di Stadion Gillette, Foxborough, pada Selasa waktu setempat, tidak hanya menjadi laga penentu di Grup I Kualifikasi Piala Dunia 2026, tetapi juga panggung duel dua mesin gol paling tajam di benua mereka: Aymen Hussein dan Erling Haaland.
Aymen Hussein, ujung tombak Irak, telah menjadi pahlawan bagi timnya selama perjalanan menuju putaran final. Catatan FIFA menunjukkan bahwa pemain berusia 29 tahun itu mengemas total sembilan gol dari 16 pertandingan kualifikasi, termasuk satu gol yang ia lesakkan pada babak play-off antar konfederasi. Kontribusinya yang konsisten menjadi fondasi utama bagi kebangkitan Singa Mesopotamia di kancah sepak bola global.
Di sisi lain, Haaland tampil dengan statistik yang nyaris sempurna. Penyerang Manchester City itu menjadi motor utama keberhasilan Norwegia kembali ke panggung Piala Dunia setelah sekian lama absen. Dalam delapan pertandingan kualifikasi, ia mencetak 16 gol rata-rata dua gol per laga sebuah pencapaian yang menegaskan statusnya sebagai salah satu predator paling mematikan di dunia saat ini.
Pelatih Irak, Graham Arnold, tidak ingin mengambil risiko. Ia menurunkan formasi 4-4-2 dengan Jalal Hassan sebagai penjaga gawang. Lini belakang diisi oleh Hussein Ali, Zaid Tahseen, Akam Hashim, dan Merchas Doski. Sementara itu, lini tengah dipercayakan kepada Ibrahim Bayesh, Amir Al Ammari, Zaid Ismael, dan Ali Jasim. Di lini depan, duet Aymen Hussein dan Ali Al Hamadi menjadi andalan untuk membongkar pertahanan Norwegia.
Norwegia pun datang dengan kekuatan penuh. Pelatih Stale Solbakken mengandalkan formasi 4-3-3. Orjan Nyland bertugas di bawah mistar, sementara empat bek David Moller Wolfe, Torbjorn Heggem, Kristoffer Ajer, dan Julian Ryerson disiapkan untuk meredam serangan Irak. Di lini tengah, trio Fredrik Aursnes, Sander Berge, dan Martin Odegaard menjadi pengatur ritme permainan. Tiga penyerang, Antonio Nusa, Haaland, dan Alexander Sorloth, menjadi ancaman konstan bagi pertahanan lawan.
Pertandingan ini akan dipimpin oleh wasit asal Gabon, Pierre Atcho. Dengan keunggulan pengalaman dan ketajaman di kedua kubu, laga ini diprediksi berlangsung sengit sejak menit pertama.
Artikel Terkait
Kesepakatan Damai Iran-AS Masih Simpang Siur, Teks Perjanjian Belum Dipublikasikan
Kesepakatan Damai AS-Iran Masih Diselimuti Ketidakjelasan, Poin Nuklir Jadi Perdebatan
Kesepakatan Iran-AS Masih Simpang Siur, Naskah Perjanjian Belum Dipublikasikan
Gempa M 6,7 Guncang Palu, Warga Trauma dan Pilih Tidur di Luar Rumah