Komunitas Yakuza Maneges Resmi Dideklarasikan di Kediri, Usung Misi Sosial dan Dakwah Inklusif

- Rabu, 13 Mei 2026 | 11:35 WIB
Komunitas Yakuza Maneges Resmi Dideklarasikan di Kediri, Usung Misi Sosial dan Dakwah Inklusif

Nama Yakuza Maneges mendadak menjadi perbincangan hangat publik setelah komunitas ini dideklarasikan di Kota Kediri, Jawa Timur. Meski menggunakan nama yang identik dengan organisasi kriminal Jepang, gerakan ini justru mengusung misi sosial dan spiritual untuk merangkul masyarakat marginal.

Komunitas yang berada di bawah pimpinan Gus Thuba ini hadir dengan semangat dakwah inklusif yang terinspirasi dari ajaran ulama kharismatik asal Kediri, Gus Miek. Peresmian organisasi tersebut turut dihadiri oleh Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati yang memberikan sambutan hangat atas lahirnya gerakan sosial-spiritual ini.

Gus Thuba, yang memiliki nama lengkap Thuba Topo Broto Maneges, mengaku sangat terinspirasi dari teladan Gus Miek. Ia menjadikan pendekatan dakwah sang ulama sebagai metodologi yang diterapkan langsung di lapangan. Hubungan keduanya bersifat spiritual dan ideologis, di mana Gus Thuba mewarisi cara pandang bahwa orang-orang yang dianggap nakal, preman, atau terbuang justru menjadi ladang dakwah yang sesungguhnya.

“Mereka bukan untuk dihakimi, melainkan dirangkul dan diberdayakan,” demikian keyakinan yang mendasari gerakan ini.

Nama Yakuza memang kerap memantik kontroversi. Namun, Gus Thuba menegaskan bahwa pemilihan nama tersebut dilakukan secara sadar dan memiliki makna tersendiri. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa Yakuza Maneges merupakan tempat bagi saudara-saudara yang kerap disebut sebagai santri jalur kiri.

“Di bawah pimpinan saya, organisasi ini berdiri dengan semangat spiritual dan kemanusiaan yang kuat,” ujar Gus Thuba saat peresmian, Sabtu (9/5/2026).

Istilah santri jalur kiri, menurut penjelasannya, merujuk pada orang-orang yang pernah tersesat, berada di jalan yang keliru, atau pernah terjerumus dalam kesalahan, namun memiliki niat kuat untuk memperbaiki diri dan kembali ke jalan yang benar.

Dalam konsep yang dibangun Gus Thuba, Yakuza Maneges tidak mengadopsi gaya hidup kriminal seperti Yakuza Jepang. Komunitas ini justru mengambil semangat perlawanan terhadap sistem yang meminggirkan rakyat kecil. Kata “Maneges” dalam bahasa Jawa berarti jernih atau bening, menggambarkan jiwa yang tampak keras di luar namun jernih di dalam.

Ideologi komunitas ini berdiri di atas tiga pilar utama, yakni inklusivitas, spiritualitas jalanan, dan solidaritas akar rumput. Ketiganya menjadi landasan gerakan yang ingin merangkul mereka yang selama ini terpinggirkan oleh struktur sosial masyarakat.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar