Survei SMRC dan Indikator: Dedi Mulyadi Ungguli Prabowo di Simulasi Pilpres 2029

- Kamis, 30 Juli 2026 | 19:25 WIB
Survei SMRC dan Indikator: Dedi Mulyadi Ungguli Prabowo di Simulasi Pilpres 2029

Dua lembaga survei nasional, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Indikator Politik Indonesia, mencatat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi unggul atas Presiden Prabowo Subianto dalam simulasi elektabilitas calon presiden untuk Pilpres 2029. Hasil ini menjadi sinyal awal persaingan politik yang mulai menghangat.

Dalam survei SMRC, Dedi Mulyadi memperoleh dukungan 35 persen, sementara Prabowo hanya 14,5 persen. Angka ini menunjukkan perubahan signifikan dari peta politik sebelumnya. Indikator Politik Indonesia juga menempatkan Dedi di posisi teratas dalam simulasi serupa.

Meningkatnya elektabilitas Dedi Mulyadi tidak lepas dari tingginya eksposur publik. Aktivitasnya yang intens di media sosial, pendekatan langsung kepada masyarakat, dan gaya komunikasi sederhana dinilai memperkuat kedekatan dengan pemilih. Sebagai Gubernur Jawa Barat, ia juga mencatat tingkat kepuasan publik yang tinggi dalam berbagai survei sebelumnya.

Di sisi lain, survei SMRC terbaru menunjukkan penurunan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Prabowo menjadi sekitar 51,1 persen. SMRC menyebut persepsi terhadap kondisi ekonomi menjadi faktor utama yang memengaruhi penilaian publik. Penurunan ini turut berdampak pada simulasi elektabilitas calon presiden.

Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa elektabilitas dapat berubah seiring perkembangan politik, kondisi ekonomi, dan munculnya figur baru. Survei hanya menggambarkan preferensi responden pada saat pengambilan data, bukan hasil akhir pemilihan. Tahapan Pilpres 2029 pun belum dimulai.

Temuan SMRC dan Indikator menjadi sinyal bahwa persaingan menuju Pilpres 2029 mulai menghangat. Nama Dedi Mulyadi kini muncul sebagai figur dengan daya saing kuat, sementara Prabowo menghadapi tantangan mempertahankan dukungan publik di tengah dinamika ekonomi dan politik nasional.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags