Enam bidan di Puskesmas Laja, Kecamatan Golewa Selatan, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, tetap melayani persalinan di bawah tenda darurat dengan penerangan seadanya setelah bangunan puskesmas rusak akibat gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026). Meski ruang bersalin tidak dapat digunakan dan listrik padam, mereka menggunakan senter handphone untuk mendampingi proses persalinan.
Kepala Puskesmas Laja, Anastasia, mengungkapkan bahwa sejak pukul enam pagi hingga delapan malam, para tenaga kesehatan terpaksa mengandalkan senter HP karena listrik belum menyala. "Sejak pukul enam kemarin hingga jam 8 malam kami menggunakan senter HP untuk mendampingi pasien. Listrik baru menyala setelah jam delapan malam," ujarnya. Meski dalam kondisi darurat, proses persalinan berjalan lancar dan ibu serta bayi perempuannya dalam keadaan sehat.
Anastasia memberikan apresiasi kepada seluruh tenaga kesehatan yang tetap berjuang memberikan pelayanan terbaik. "Saya apresiasi atas perjuangan teman-teman Nakes yang tetap memberikan yang terbaik di tengah kondisi darurat," katanya. Tidak hanya menangani persalinan, Puskesmas Laja juga melayani pasien umum dan balita di tenda darurat karena sebagian besar bangunan mengalami kerusakan serius.
Puskesmas Laja bukan satu-satunya fasilitas kesehatan yang terdampak. Puskesmas Maronggela di Kecamatan Riung Barat juga harus mendirikan tenda darurat untuk memberikan pelayanan. Berdasarkan data sementara dari Pusdalops BPBD Kabupaten Ngada, terdapat 14 fasilitas kesehatan yang terdampak gempa, termasuk puskesmas, RSUD, dan posyandu.
Gempa Susulan Masih Terjadi
Hingga Senin (17/8/2026) pukul 08.00 WITA, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 1.598 gempa susulan setelah gempa utama. Dari jumlah tersebut, 19 gempa memiliki kekuatan di atas magnitudo 5, dengan gempa terbesar mencapai magnitudo 6,2. Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, mengatakan aktivitas gempa susulan masih dinamis dan grafik peluruhannya belum menunjukkan pola yang jelas.
"Jika dilihat dari grafik peluruhan, masih fluktuatif dan belum terlihat jelas pola peluruhannya," ujar Arief. Ia memperkirakan gempa susulan akan terus terjadi selama dua hingga tiga minggu ke depan. "Estimasi sekitar dua sampai tiga minggu ke depan akan stabil," lanjutnya. Sebagian besar gempa susulan terjadi di laut wilayah utara Pulau Flores.
Arief mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan tidak mudah percaya pada informasi yang tidak bersumber dari BMKG atau instansi resmi. Warga juga diminta menghindari bangunan yang rusak karena berbahaya jika terjadi gempa susulan.
Artikel Terkait
Balita Korban Gempa Flores Meninggal di Posko Pengungsian
3.759 Hotspot Terdeteksi di Kalbar, Hampir Separuhnya di Ketapang
Gempa M5,2 Guncang Ruteng, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami
Relawan Kemanusiaan Ahmad Zaki Ali Wafat saat Membantu Korban Gempa NTT