Cesc Fabregas menegaskan komitmennya untuk bertahan di Como 1907 meski mendapat tawaran dari sejumlah klub raksasa Italia. Pelatih berusia 39 tahun itu memilih melanjutkan proyek yang telah membawanya meraih sukses bersama klub milik Hartono Bersaudara, termasuk lolos ke Liga Champions musim depan.
Sejak menukangi Como pada musim 2023-2024, Fabregas langsung mengantarkan tim promosi ke Serie A setelah 21 tahun penantian. Debutnya di kasta tertinggi juga impresif dengan finis di peringkat ke-10, sebelum akhirnya membawa I Lariani mengunci posisi keempat pada musim 2025-2026 dan merebut tiket ke Liga Champions.
Prestasi itu memicu minat dari Inter Milan, Napoli, dan AS Roma pada bursa transfer musim panas 2025. Namun, mantan gelandang timnas Spanyol itu menolak semua pendekatan tersebut. "Ketika saya mengambil keputusan, saya tidak akan mengubahnya, jadi saya memang tidak pernah berniat meninggalkan Como," ujarnya.
Fabregas juga mengaku telah menyampaikan sikapnya secara terbuka kepada pimpinan klub. "Saya sudah sangat jelas kepada presiden saya; saya mendengarkan pendapat orang lain sebagai bentuk penghormatan. Hal itu karena juga memungkinkan saya untuk menjelaskan alasan-alasan saya," tuturnya.
Peran Nico Paz
Di balik kesuksesan Como, kontribusi Nico Paz tak bisa diabaikan. Gelandang muda asal Argentina itu dibeli dari Real Madrid seharga 6 juta euro pada musim panas 2024. Setelah mencetak 6 gol dan 8 asis di musim pertamanya, Paz tampil gemilang dengan 12 gol pada musim 2025-2026 hingga dinobatkan sebagai Gelandang Terbaik Liga Italia.
Penampilan apiknya membuat Como menebusnya secara permanen senilai 60 juta euro, dengan klausul pembelian kembali sebesar 80 juta euro untuk Real Madrid. Fabregas menilai pemain berusia 21 tahun itu memiliki kapasitas fisik dan teknik luar biasa untuk bersaing di level tertinggi.
"Nico Paz memiliki segalanya, baik fisik maupun kualitas," kata Fabregas. Ia menekankan pentingnya menjaga mentalitas dan motivasi sang pemain agar tidak cepat puas. "Saat saya berbicara dengannya, saya berusaha memahami seberapa besar keinginannya untuk mencapai puncak," ujarnya.
Fabregas juga berkomitmen mengawal proses pendewasaan Paz di dalam dan luar lapangan. "Jika saya menoleh kepadanya dan dia malah menoleh ke arah lain, itulah saatnya untuk melepaskannya," ucapnya. Di mata sang pelatih, Paz menunjukkan kematangan bermain yang melampaui usianya. "Nico memiliki keberanian, visi, dan ambisi yang luar biasa," tuturnya.
Pendekatan disiplin dan bimbingan berkelanjutan dinilai menjadi kunci utama untuk membentuk Paz menjadi pemain kelas dunia. "Dia berusia 21 tahun, tapi rasanya seolah-olah dia sudah bermain selama satu dekade," kata Fabregas. Ia terus mendorong potensi Paz agar siap menghadapi tekanan di klub-klub terbesar Eropa.
"Seperti halnya semua pemain muda, Anda harus terus mendorongnya, untuk membantu mengembangkan dirinya sebagai pribadi sekaligus sebagai pemain," ujar Fabregas. Ia meyakini proses pematangan ini akan membawa Paz ke level tertinggi dalam kancah sepak bola internasional.
"Begitulah cara Anda menciptakan pemain yang bisa beradaptasi di Juventus, Inter, atau Real Madrid," ucap Fabregas. Meski sebagian pihak membandingkan gaya main Paz dengan legenda AC Milan Ricardo Kaka, Fabregas melihat perbedaan mendasar pada karakter permainan keduanya. "Kaka sedikit lebih eksplosif. Dia memiliki dorongan ke depan yang, seperti Andres Iniesta, tak terbendung," kata Fabregas.
Menurutnya, keunggulan Paz terletak pada kekuatan fisik serta kecerdasan posisi saat menguasai bola. "Begitu dia mulai bergerak, Anda tak bisa menghentikannya," ujar Fabregas. Ia menilai Paz memiliki profil unik yang membedakannya dari gelandang serang lainnya. "Nico sedikit lebih kuat secara fisik, lebih mengutamakan posisi, dan lebih statis, tetapi dia tahu cara menggunakan tubuhnya dengan cara yang berbeda dari yang lain," ucapnya.
Fabregas mengapresiasi pemahaman taktik Paz yang terus meningkat seiring bertambahnya menit bermain di Serie A. "Dia memiliki tekad untuk mencetak gol, umpan akhir yang hebat, dan mulai memahami permainan dengan jauh lebih baik," tuturnya. Ia menutup penilaiannya dengan pujian atas talenta besar yang dimiliki pemain mudanya tersebut. "Dia adalah seorang bertalenta," kata Fabregas.
Artikel Terkait
Como 1907 dan Famalicão Berebut Posisi Ketiga di Como Cup
Real Madrid Lepas Nico Paz ke Como dengan Klausul Buy Back Rp1,63 Triliun