Gempa M6,5 Guncang Filipina Selatan, Terasa Hingga Sulawesi Utara

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 12:55 WIB
Gempa M6,5 Guncang Filipina Selatan, Terasa Hingga Sulawesi Utara

Gempa bumi berkekuatan signifikan mengguncang wilayah lepas pantai Filipina selatan pada Rabu (5/8/2026). Guncangan terasa hingga sejumlah wilayah di Sulawesi Utara, Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa ini memiliki magnitudo terbaru M6,5 dengan kedalaman 10 kilometer.

"Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M6,5 pada kedalaman 10 km," ujar Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, dalam keterangan resminya.

Episenter gempa terletak di koordinat 5,29 derajat Lintang Utara dan 125,43 derajat Bujur Timur, tepatnya di laut pada jarak 186 kilometer arah barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Berdasarkan pemodelan yang dilakukan, gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Menurut analisis BMKG, gempa tersebut termasuk jenis gempa bumi dangkal yang disebabkan oleh aktivitas subduksi di Cotabato Trench. "Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi di Cotabato Trench. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault)," jelas Wijayanto.

Guncangan gempa dirasakan dengan skala intensitas IV MMI di sejumlah wilayah, antara lain Kepulauan Marore, Miangas, dan Kendahe. Pada skala ini, getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, sebagian orang di luar ruangan, dan dapat menyebabkan gerabah pecah, jendela atau pintu berderik, serta dinding berbunyi pada siang hari.

Hingga pukul 11.40 WIB, BMKG mencatat telah terjadi dua kali gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar M4,8.

Sebelumnya, gempa berkekuatan M6,3 juga mengguncang wilayah yang sama pada hari yang sama. Gempa tersebut membuat warga panik dan berlarian keluar rumah. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebutkan gempa terjadi sekitar 32 kilometer barat daya Pulau Sarangani pada pukul 12.14 siang waktu setempat. Tidak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan, dan belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan berarti.

Seorang petugas penyelamat di Pulau Sarangani, Harly Sauro, menuturkan bahwa gempa terjadi saat banyak warga sedang berkumpul untuk menerima subsidi dari pemerintah. Situasi sempat mencekam, namun hingga kini belum ada laporan lanjutan mengenai dampak yang lebih serius.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags