Filipina pernah menjadi saksi keganasan alam saat Topan Haiyan, yang juga dikenal sebagai Topan Yolanda, melanda pada awal November 2013. Topan ini tercatat sebagai salah satu bencana badai paling mematikan di kawasan Asia Tenggara, dengan kekuatan yang menghancurkan.
Berdasarkan data dari National Environmental Satellite, Data, and Information Service (NESDIS) Amerika Serikat, kecepatan angin topan ini mencapai 195 mil per jam atau sekitar 313 km/jam. Dengan diameter hingga 1.000 mil, ukurannya bahkan jauh lebih besar daripada Badai Katrina yang melanda Amerika Serikat pada 2005.
Angin yang sangat destruktif dan gelombang laut yang kuat menghancurkan sebagian besar wilayah kepulauan Filipina. Dampaknya dirasakan oleh lebih dari 16 juta orang, menjadikan bencana ini salah satu yang terbesar dalam sejarah negara tersebut.
Tragedi ini juga memberikan pukulan telak bagi sistem kesehatan di daerah terdampak. Pembangunan kembali fasilitas medis menjadi prioritas utama setelah badai berlalu. Bantuan internasional, termasuk dari WHO, dikerahkan untuk mengirimkan ratusan ton pasokan medis guna menangani krisis kemanusiaan yang terjadi.
Menurut data WHO, sebanyak 6.300 orang tewas akibat bencana ini, sementara lebih dari 28.000 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Gelombang bantuan internasional pun mengalir deras, dengan lebih dari 150 tim medis darurat internasional yang berkoordinasi bersama lebih dari 200 organisasi mitra untuk membantu pemulihan para penyintas.
Dengan kekuatan dan daya rusak yang luar biasa tersebut, Topan Haiyan tercatat sebagai topan paling mematikan dalam sejarah Asia Tenggara.
Artikel Terkait
Laos Kalah 1-4 dari Filipina setelah Kartu Merah di Babak Pertama
Filipina Comeback 4-1 atas Laos di Piala AFF 2026
Filipina Comeback Taklukkan Laos 4-1 di Piala AFF 2026
Letusan Gunung Pinatubo 1991: Dahsyatnya Erupsi yang Mendinginkan Bumi