Seorang ustaz bernama Ahmad Firdaus (53) meninggal dunia saat sedang mengisi ceramah dalam sebuah pengajian di kawasan Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur. Peristiwa itu terjadi pada Kamis (30/7) dan telah dikonfirmasi oleh pihak keluarga.
Anak Firdaus, Ahmad Fikri Fairus (31), mengenang ayahnya sebagai pribadi yang dekat dengan jemaahnya. Menurut Fairus, tidak ada jarak antara Firdaus dengan jemaahnya. Mereka sering mengobrol, berbagi cerita, bahkan ngopi bersama.
"Nggak ada gap antara beliau dengan jamaahnya. Jadi ya ngopi bareng, bahkan almarhum selalu bilang, 'Ayah menganggap mereka itu ya teman, teman sharing, teman ngobrol, teman ngopi.' Jadi nggak ada gap antara almarhum dengan tetangga," kata Fairus saat ditemui di rumah Firdaus di Klender, Minggu (2/8/2026).
Fairus juga menuturkan bahwa ayahnya rutin mengajak warga berziarah ke makam ulama. Kegiatan itu dilakukan setiap bulan, bahkan kadang setiap minggu.
"Setiap sebulan sekali, kadang kalau almarhum lagi pengin seminggu sekali. Biasanya kita rutin pastinya tarhib Ramadan itu udah pasti ziarah almarhum keliling ke ulama-ulama yang terdekat di sini, khususnya ulama-ulama Betawi gitu. Setiap bulan, tiap minggu pasti almarhum ada ngajakin kami tuh ziarah bareng," ungkapnya.
Fairus mengungkapkan, sebelum meninggal, Firdaus sempat mengajak warga untuk istigasah melalui aplikasi WhatsApp. Ajakan itu disebarkan pada hari yang sama sebelum Firdaus mengembuskan napas terakhir.
"Bahkan sebelum almarhum mengembuskan napas terakhir, almarhum masih WA sama sekitar, nge-share ke grup bahwa itu kan memang harusnya ada kegiatan almarhum yang almarhum ajak, 'Ayo ayo istigasah, ayo istigasah.' Ternyata saat itu almarhum mengembuskan napas terakhir," imbuhnya.
Warga sekitar bernama Jamaludin (53) juga mengenang Firdaus sebagai sosok yang hangat. Ia menyebut Firdaus tidak membeda-bedakan warga, baik yang muda maupun yang tua.
"Saya sebagai warga dan juga sebagai jemaah beliau, saya menganggap beliau itu seperti apa, kakak, guru, teman nongkrong juga. Jadi beliau tidak membeda-bedakan mana yang muda, mana yang tua, gitu. Jadi, intinya beliau tuh di mata beliau tuh sama semua, gitu. Tidak membeda-bedakan usia," kenang Jamaludin saat ditemui di sekitar rumah Firdaus.
Jamaludin bercerita bahwa ia kerap mengikuti ziarah yang diinisiasi Firdaus. Beberapa makam di kawasan Jakarta pernah dikunjunginya bersama Firdaus.
"Kalau untuk wilayah yang dekat-dekat seperti makam K.H. Ahmad Zayadi Muhajir, K.H. Ahmad Marzuqi bin Mirshod, Pangeran Jayakarta, terus ke mana, Jakarta Utara itu, iya, Keramat Luar Batang itu sering ikut beliau, gitu. Khususnya sih wilayah Jakarta lah. Wilayah Jakarta sering ikut beliau, gitu. Ya, konvoi sama anak-anak apa, sama anak-anak majelis, sama anak-anak murid beliau. Sama yang di Ujung Harapan," katanya.
Selain itu, Jamaludin mengenang Firdaus sebagai pribadi yang tidak pernah menolak jika diajak mendampingi jemaah yang menggelar hajatan.
"Kalau apa yang dikatakan seperti itu betul. Yang jauh-jauh tuh enak diajaknya dia. Dia pokoknya di mata saya tuh guru itu, Pak Ustaz Firdaus itu paling enak orangnya. Diajak ke mana aja nggak pernah nolak. Pokoknya apabila ada jemaah yang punya hajat ke mana, dia siap mendampingi," kenangnya.
Peristiwa meninggalnya Firdaus viral di media sosial setelah muncul video yang memperlihatkan dirinya tiba-tiba jatuh saat berceramah.