Fenomena Mukbang: Antara Viral, Nyawa, dan Nasib Usaha Kecil

- Kamis, 13 Agustus 2026 | 09:00 WIB
Fenomena Mukbang: Antara Viral, Nyawa, dan Nasib Usaha Kecil

Fenomena makan di depan kamera yang dikenal sebagai mukbang bermula dari rasa kesepian. Tren ini muncul di Korea Selatan pada awal 2010-an melalui platform live streaming seperti AfreecaTV, di mana penonton dapat merasakan kebersamaan saat menyantap makanan secara real-time. Sekitar tahun 2014, fenomena ini meluas ke negara-negara Barat.

Di Indonesia, budaya food vlogging mulai berkembang sejak awal 2010-an seiring dengan popularitas YouTube, dan semakin pesat dalam lima tahun terakhir berkat kehadiran TikTok dan Instagram. Nama-nama seperti Nex Carlos, Tanboy Kun, dan Farida Nurhan lahir dan membesarkan industri kuliner di tanah air.

Dampak Ganda bagi Pelaku Usaha

Satu video ulasan makanan dapat mengubah nasib sebuah warung kecil: bisa membuatnya kebanjiran pembeli, atau justru bangkrut dalam semalam. Penilaian seorang reviewer baik soal rasa, kebersihan, maupun pelayanan dapat menyebar viral dalam hitungan jam. Bagi pelaku usaha kecil, kritik pedas bisa menjadi pukulan telak yang sulit dipulihkan.

Taruhan Nyawa di Balik Konten Ekstrem

Semakin ekstrem kontennya, semakin besar pula risikonya. Kasus paling tragis terjadi di China: Pan Xiaoting, bintang mukbang berusia 24 tahun, meninggal saat live streaming. Lambungnya robek akibat kebiasaan mengonsumsi lebih dari 10 kilogram makanan per sesi, tanpa jeda, hingga 10 jam sehari. Ironisnya, ia sempat dirawat karena pendarahan lambung, tetapi kembali binge eating sehari setelah keluar dari rumah sakit.

Kasus serupa juga menimpa Efecan Kultur, mukbanger asal Turki berusia 24 tahun, yang meninggal akibat komplikasi obesitas setelah mengalami kesulitan berdiri dan gangguan pernapasan. Seorang YouTuber mukbang di Filipina juga dilaporkan meninggal karena serangan jantung sehari setelah mengunggah video makan dalam porsi besar.

Para dokter jantung memperingatkan bahwa makan berlebihan dapat memberi tekanan besar pada jantung, terutama bagi mereka yang memiliki hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi. Di balik gemerlap subscriber dan endorse, industri food vlogger menyimpan dua wajah: kekuatan untuk mengangkat atau menjatuhkan usaha kecil, serta risiko kesehatan nyata bagi para kreatornya. Konten yang menghibur ini ternyata menyimpan taruhan yang jauh lebih besar daripada sekadar jumlah penonton.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags