Anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Ilhan Omar, resmi memenangkan pemilihan primer di Distrik Kongres ke-5 Minnesota pada 11 Agustus 2026. Dengan perolehan suara yang dominan, ia berhasil mengamankan posisinya sebagai calon petahana untuk menghadapi pemilihan paruh waktu November mendatang.
Berdasarkan data penghitungan suara dari The New York Times dan NPR, Omar mengumpulkan 122.640 suara atau 80,7 persen, jauh mengungguli empat penantangnya. Julie Le berada di posisi kedua dengan 10.201 suara (6,7 persen), disusul Latonya Reeves dengan 9.131 suara (6,0 persen), Nate Schluter dengan 8.016 suara (5,3 persen), dan Abena McKenzie dengan 1.961 suara (1,3 persen).
Kemenangan ini menandai dominasi mutlak Omar tanpa persaingan ketat seperti pada pemilihan-pemilihan sebelumnya. Di kubu Republik, John Nagel memenangkan primer partainya dengan 52,1 persen suara dan akan menjadi lawan Omar pada November nanti. Namun, Distrik ke-5 Minnesota yang berpusat di wilayah Minneapolis merupakan basis kuat Demokrat, dinilai Solid Democratic oleh Cook Political Report. Dengan demikian, Omar diprediksi akan dengan mudah mempertahankan kursinya untuk masa jabatan kelima berturut-turut.
Dukungan untuk Palestina
Ilhan Omar dikenal luas sebagai salah satu pembela hak-hak Palestina paling vokal di pemerintahan Amerika Serikat. Sebagai bagian dari kelompok progresif yang disebut "The Squad," ia konsisten mengkritik kebijakan pemerintah Israel dan kebijakan luar negeri AS yang dinilai bias terhadap Israel.
Bentuk dukungannya antara lain mendesak gencatan senjata permanen di Jalur Gaza, memperkenalkan resolusi untuk memblokir penjualan senjata dan bom AS ke Israel, serta membela hak warga negara untuk melakukan boikot, divestasi, dan sanksi (BDS) terhadap Israel sebagai bentuk protes damai. Ia juga mengecam keras dehumanisasi warga Palestina dan penghancuran tempat ibadah seperti Masjid Al-Aqsa, serta mendukung aksi protes pro-Palestina di berbagai kampus AS melawan tuduhan anti-Semitisme yang keliru.
Sebagai mantan pengungsi perang dari Somalia, Omar menekankan bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat harus menerapkan nilai-nilai universal yang berorientasi pada hak asasi manusia, perdamaian, dan keadilan bagi semua bangsa tanpa standar ganda.