Mencuci Buah dan Sayur Tetap Penting Meski Akan Dikupas

- Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:50 WIB
Mencuci Buah dan Sayur Tetap Penting Meski Akan Dikupas

Mencuci buah dan sayuran segar sebelum dikonsumsi tetap diperlukan, meskipun bagian luarnya akan dikupas. Langkah sederhana ini membantu menghilangkan kotoran, pestisida, dan mikroorganisme yang menempel di permukaan. Saat mengupas lemon, jeruk, atau buah lainnya, kuman pada kulit dapat berpindah ke bagian yang akan dimakan.

Beberapa jenis sayuran membutuhkan perhatian lebih saat dicuci. Sayuran yang tumbuh di dalam tanah, seperti wortel, dapat membawa lebih banyak tanah dan kotoran sehingga perlu digosok hingga bersih. Sayuran berdaun seperti selada juga perlu dicuci dengan lebih teliti karena lipatan dan celah pada daunnya dapat menyimpan tanah, kotoran, serta mikroorganisme.

"Sayuran berdaun membutuhkan perhatian lebih karena lipatan dan celahnya dapat menjebak tanah, kotoran, dan mikroorganisme," kata Direktur Alliance to Stop Foodborne Illness, Vanessa Coffman, PhD.

Namun, produk yang sudah diberi keterangan telah dicuci atau pre-washed tidak perlu dicuci kembali. Mencucinya justru dapat membuat makanan bersentuhan dengan bak cuci atau permukaan lain yang kotor dan berpotensi terkontaminasi. "Mencucinya kembali berisiko membuatnya bersentuhan dengan bak cuci atau permukaan yang kotor atau terkontaminasi," kata Ketua Departemen Ilmu Pangan Rutgers University, Don Schaffner, PhD.

Mencuci buah dan sayur memang dapat mengurangi jumlah kotoran dan kuman, tetapi tidak dapat menghilangkan seluruh kontaminan. Menurut Schaffner, penelitian mengenai seberapa banyak bakteri yang dapat dihilangkan melalui proses pencucian masih terbatas. Namun, jumlah mikroorganisme yang sangat sedikit pun dapat menyebabkan seseorang sakit. Risiko tersebut juga berlaku pada parasit seperti Cyclospora yang dapat menempel kuat pada permukaan hasil pertanian, kata Coffman.

Selain itu, sejumlah mikroorganisme dapat masuk ke bagian dalam buah atau sayuran sehingga tidak bisa dihilangkan hanya dengan mencucinya. Coffman mencontohkan bakteri E. coli yang dapat masuk ke tomat melalui bagian bekas tangkai.

Karena itu, mencuci bukan satu-satunya langkah untuk menjaga keamanan makanan. Memasak makanan, menyimpannya dalam suhu yang tepat, dan mencegah kontaminasi silang juga penting. Schaffner mengatakan masyarakat tidak perlu menghindari buah atau sayuran tertentu hanya karena pernah dikaitkan dengan wabah penyakit bawaan makanan.

"Sebagian besar produk segar di Amerika Serikat bebas dari patogen, dan saya tidak menyarankan menghindari jenis produk tertentu karena risikonya lebih tinggi. Risiko dari semua produk tersebut sebenarnya sangat rendah," ujarnya.

Untuk mencuci buah dan sayur, gunakan tangan yang bersih lalu bilas produk di bawah air mengalir yang bersih dan sejuk. Buah atau sayuran yang kulitnya akan dikupas tetap perlu dibilas terlebih dahulu. Sayuran dan buah yang permukaannya lebih keras dapat digosok menggunakan sikat khusus untuk produk pangan guna membantu menghilangkan kotoran.

Untuk selada yang belum melalui proses pencucian, buang daun terluarnya. Pisahkan daun yang tersisa, kemudian cuci dan keringkan sebelum dikonsumsi. Suhu air dan lamanya mencuci tidak perlu terlalu dipermasalahkan. Schaffner mengatakan penelitian yang membandingkan air bersuhu 60, 80, dan 100 derajat Fahrenheit tidak menemukan perbedaan yang signifikan dalam efektivitas pencucian.

Masyarakat juga tidak perlu menggunakan sabun khusus, pemutih, cairan pencuci buah dan sayur, soda kue, maupun campuran cuka untuk mencuci produk segar. Coffman mengatakan bahan-bahan tersebut belum terbukti memberikan manfaat keamanan pangan yang berarti dibandingkan air biasa. Dalam beberapa kondisi, bahan tersebut juga dapat meninggalkan residu atau mengubah rasa dan kualitas buah maupun sayuran.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags