Pemerintah Siaga Hadapi Karhutla di Tengah El Nino, 107 Ribu Hektare Hutan Terbakar

- Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:06 WIB
Pemerintah Siaga Hadapi Karhutla di Tengah El Nino, 107 Ribu Hektare Hutan Terbakar

Pemerintah menyiapkan berbagai langkah untuk menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat saat musim kemarau ditambah fenomena El Nino. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Djamari Chaniago, mengungkapkan data terbaru terkait karhutla di Indonesia.

Djamari menyebut, hingga saat ini, total luas lahan hutan yang terbakar mencapai 107 ribu hektare. "Sampai dengan hari ini, wilayah kita di Indonesia ini yang terbakar hutan 107 ribu hektare," ujarnya dalam konferensi pers di kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8).

Untuk menangani kebakaran yang tengah berlangsung, pemerintah mengerahkan operasi udara dan darat secara paralel guna memadamkan titik api. Di udara, sebanyak 43 helikopter dikerahkan untuk menjangkau area titik api yang sulit diakses dan menyemburkan air. "Sebagai catatan, dalam melaksanakan operasi udara yang dilakukan oleh satgas udara, kita mengerahkan sekitar 43 helikopter," ucap Djamari.

Sementara di darat, upaya pemadaman terkendala oleh keterbatasan sumber air. Namun, pemerintah menggunakan unit flexible tank yang bisa dibawa ke lokasi kebakaran. "Sementara air sudah kurang di darat kita temukan tapi kita masih punya menggunakan flexible tank yang bisa kita bawa," sambungnya. "Bahkan, kita juga bisa membuat sumur di daerah-daerah itu. Sumur buatan yang bisa mengeluarkan air," lanjutnya.

Menurut Djamari, operasi udara lebih efektif untuk memadamkan titik api dengan cepat. "Upaya paling tepat adalah yang efektif operasi udara sebenarnya sangat efektif membuat hujan buatan oleh BNPB," ungkapnya.

Waspadai Ancaman El Nino Terkuat

Djamari juga menjelaskan bahwa Indonesia saat ini menghadapi ancaman El Nino terkuat. "El Nino itu ada yang dimulai sampai dengan yang terkuat. El Nino terkuat itu adalah suatu keadaan di mana sangat membuat kekeringan dan mudah sekali kebakaran. Kemarau akan lebih panjang," terangnya. Kondisi ini sangat memengaruhi lambannya proses pemadaman kebakaran hutan yang tengah diupayakan. "Cuaca ini sangat sangat menentukan upaya keberhasilan kita," ujarnya.

Petakan Wilayah Rawan Karhutla

Djamari menyebut terdapat enam provinsi yang dipantau ketat karena rawan kebakaran hutan. Provinsi-provinsi tersebut meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. "Kemudian, dari daerah yang kita waspadai sebagai daerah yang paling kritis. Ada 6 provinsi," ujar Djamari. "Yang kita waspadai di 6 provinsi itu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalbar, Kalteng, dan Kalsel," sebutnya.

Meski demikian, Djamari menegaskan bahwa pemerintah telah melakukan upaya pemadaman secara optimal dan mengendalikan kebakaran yang terjadi agar tidak meluas. Teranyar, titik api di Gunung Bromo dan Gunung Gede Pangrango telah berhasil dipadamkan. "Itupun sudah kita kendalikan semuanya. Seperti misalnya di Bromo, Semarang, di Jawa Barat juga sudah diselesaikan itu Gede Pangrango. Kemudian di sekitar Jambi juga sudah selesai," ujarnya.

Siapkan Skema Modifikasi Cuaca

Djamari menekankan pentingnya keberadaan awan hujan sebagai syarat mekanisme hujan buatan. Menurutnya, pemadaman karhutla dengan metode operasi udara lebih efektif lewat pemanfaatan rekayasa hujan buatan. "Melihat situasi seperti sekarang ini, upaya paling tepat adalah yang efektif operasi udara sebenarnya sangat efektif membuat hujan buatan oleh BNPB," ujarnya.

Namun, satu masalah vital dari metode ini adalah syarat adanya awan hujan. Awan hujan adalah satu-satunya tipe awan yang dapat disemai. "Tetapi ada satu persyaratan yang harus kita hadapi yaitu kita harus menemukan ada awan hujan. Selama awan hujan itu tidak ada, kita tidak bisa membuat hujan buatan," lanjutnya. Sementara mengamati kondisi cuaca, unit pemadam bersiaga terhadap perubahan cuaca agar sesegera mungkin awan hujan muncul, operasi hujan buatan langsung dilaksanakan. Melalui riset yang dilakukan pemerintah, terdapat potensi 3-4 hari awan hujan akan muncul sepekan ke depan yang mesti dimanfaatkan secara optimal dalam memadamkan titik-titik api yang tersisa.

Kebakaran Gunung Bromo Tinggal Satu Titik Api Lagi

Djamari juga menyinggung kebakaran lahan yang terjadi di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Ia bilang, kebakaran masih menyisakan satu titik api lagi. "Kemarin misalnya yang terbakar di Bromo. Itu sudah segera kita tuntaskan. Semalam sudah hanya tinggal 1 titik api saja," ujar Djamari. Pada saat bersamaan, selain Bromo, Djamari menyebut kasus kebakaran di Gunung Gede Pangrango dan Gunung Rinjani juga telah diatasi. "Di Jawa Barat juga sudah diselesaikan itu Gunung Gede Pangrango. Itu pun sudah selesai. Kemudian di Rinjani juga ada. Itu juga sudah selesai," sambungnya.

Ada informasi, kebakaran di Gunung Bromo diduga akibat kelalaian manusia. Menanggapi hal itu, Djamari tak menampik dugaan itu. "Gini ya, Bromo itu kan dingin, kemudian banyak orang di situ mungkin sampai kedinginan-kedinginan. Mungkin dia lupa memadamkan (api)," ucap dia. "Seperti beberapa tahun yang lalu kan orang hanya berfoto (prewed) saja kan bisa terbakar begitu. Kira-kira begitu karena human error," tuturnya.

Ingatkan Potensi Kebakaran TPA

Djamari mengingatkan potensi kebakaran lahan selama kemarau melanda. Tak cuma lahan hutan, tempat pembuangan sampah juga harus diperhatikan. "Kita juga harus memperhatikan tempat pembuangan akhir sampah. Itu jadi pengawasan kita, jangan sampai itu terbakar kita memikirkan yang sana (kebakaran hutan), yang sini (TPA) terbakar," ujar Djamari. Sejumlah langkah antisipasi terus dilakukan agar tidak ada TPA sampah yang terbakar. Mulai penyiraman air hingga mengawasi orang-orang yang beraktivitas di sekitar TPA. "Upaya yang dilakukan untuk mengendalikan itu adalah di TPA itu selalu dibasahi agar tidak terbakar," jelasnya. "Selain itu juga diawasi, dicegah jika ada orang yang membuang puntung rokok di sekitar itu," ucapnya. Jika kecolongan, kebakaran TPA menimbulkan risiko kesehatan akibat adanya gas metana beracun yang terkandung dari sampah dan diperparah asap saat terbakar.

Kapolda-Pangdam Gagal Tangani Karhutla Bisa Dicopot

Djamari menegaskan kegagalan penanganan karhutla bisa mengancam karier para Kapolda hingga Pangdam setempat. Pernyataan itu disampaikan Djamari merespons pertanyaan wartawan soal Presiden ke-7 RI, Jokowi, yang pernah mengeluarkan kebijakan akan mencopot Kapolda hingga Pangdam yang gagal menangani karhutla. "Masih berlaku (kebijakan tersebut). Pada saat saya berkeliling ke daerah, saya tekankan itu. Keberhasilan Anda mengendalikan (karhutla) tadi adalah bagaimana karier Anda ke depan," kata Djamari. Menurut Djamari, tingkat keberhasilan itu diukur dari bagaimana aparat setempat bisa mengendalikan titik-titik api yang ada. "Bukan hanya ada, kalau titik api kan bisa titik api banyak. Sekarang pun titik api ada. Artinya, dalam upaya mengendalikannya disebut, diukur berhasil atau tidak berhasil. Kalau tidak berhasil, dia punya konsekuensi," jelasnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags