Tokoh Islam Depok Kritik Wacana Budaya Bali dan Belanda, Minta Budaya Islam Dikedepankan

- Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:00 WIB
Tokoh Islam Depok Kritik Wacana Budaya Bali dan Belanda, Minta Budaya Islam Dikedepankan

Sejumlah tokoh Islam di Depok mengkritik rencana Wali Kota Depok Supian Suri yang ingin mengembangkan budaya Bali dan Belanda di kota tersebut. Mereka menilai kebijakan itu kurang tepat karena mayoritas penduduk Depok beragama Islam.

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kota Depok, Ustaz Hasan Basri Siahaan, mengingatkan bahwa umat Islam mencapai 93 persen dari total penduduk Depok. Menurutnya, pemerintah seharusnya lebih fokus membudayakan nilai-nilai Islam, seperti menutup aurat, nasyid, tabligh akbar, dan ngaji bakda magrib.

"Umat Islam di Depok jumlahnya kan 93 persen, jadi budaya Islam seperti menutup aurat, nasyid (lagu-lagu islami), tabligh akbar, ngaji bakda magrib harus dibudayakan di kota tercinta ini," kata Ustaz Hasan kepada Suara Islam, Selasa (11/8/2026).

Ia juga menyoroti sejumlah penampilan artis di Depok yang dinilai tidak sesuai dengan norma Islam. Ustaz Hasan menyayangkan aksi panggung penyanyi Liza Natalia yang dianggap "bergoyang seronok" dalam acara senam pagi, serta penampilan Ayu Ting Ting yang disebut mengenakan pakaian minim saat konser tahun lalu.

"Hal-hal seperti ini tidak boleh terulang lagi. Jangan sampai penyanyi berpenampilan pakaian minim dan membuat pemuda akhirnya mencari pelampiasan dengan berzina. Pakaian minim dan zina jangan sampai menjadi budaya. Zina adalah perbuatan kriminal dalam Islam dan pelakunya mendapat laknat Allah SWT," tegasnya.

Senada dengan Ustaz Hasan, Pengasuh Pesantren al Maunah KH Nurjaya menegaskan bahwa kebijakan wali kota harus berpedoman pada nilai-nilai Islam. Ia menilai langkah tersebut akan menjadikan Depok sebagai kota yang rahmatan lil alamin, nyaman bagi semua kalangan.

"Nilai-nilai Islam harus jadi pedoman wali kota dalam menata kebijakan di kota Depok ini. Dengan berpedoman pada Islam, maka Depok akan menjadi rahmatan lilalamin. Depok menjadi nyaman baik bagi mayoritas umat Islam maupun minoritas umat lain," jelasnya.

Kiai Nurjaya juga mengingatkan wali kota agar tidak mudah terpengaruh pihak luar yang bisa melahirkan kebijakan yang melukai umat Islam. Ia mencontohkan pembatalan pembangunan Masjid Margonda yang dinilai menyakiti warga.

"Pembatalan pembangunan masjid Margonda ini kan melukai umat Islam Depok. Jelas bahwa masjid pinggir jalan raya Margonda ini dibutuhkan masyarakat, kenapa tidak dibangun. DPRD kan juga sudah menyetujui saat itu, kenapa dibatalkan," ujarnya.

Ketua Persaudaraan Alumni 212 Depok itu berharap wali kota lebih sering berdialog dengan tokoh-tokoh Islam agar kebijakan yang diambil tidak keliru. Menurutnya, para kiai telah berkontribusi menjaga ketenteraman Depok selama puluhan tahun.

"Para kiai atau tokoh-tokoh Islam Depok ini sudah puluhan tahun menjaga ketentraman masyarakat sehingga tidak ada kerusuhan besar di kota Depok. Depok yang tenteram ini harus kita jaga bersama," pungkasnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags