Rindra Danantara Bela Lokasi Koperasi Merah Putih dan Wangsit Prabowo

- Sabtu, 08 Agustus 2026 | 18:00 WIB
Rindra Danantara Bela Lokasi Koperasi Merah Putih dan Wangsit Prabowo

Komika yang juga menjabat sebagai Menteri Kegelapan di Kabinet Bayangin, Rindra Danantara, angkat bicara mengenai sejumlah lokasi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang menuai sorotan publik. Ia membela penempatan koperasi di titik-titik ketinggian yang jauh dari permukiman warga, dengan dalih hal itu bisa mengasah sportivitas pelanggan.

Menurut Rindra, pemilihan lokasi tersebut mungkin terkait dengan kemampuan Presiden Prabowo Subianto yang disebut bisa berbicara dengan binatang. Ia mengutip informasi dari salah satu ajudan Prabowo yang menyatakan hal itu.

"Salah satu ajudannya Pak Prabowo itu mengatakan kalau beliau itu bisa berbicara dengan binatang, ada beritanya nanti di-search. Jadi, beritanya mengatakan kalau waktu itu Pak Prabowo katanya bisa berbicara dengan semut dan nyamuk, ini berita benar, saya tidak mengada-ngada, saya bicara berdasarkan data," kata Rindra dalam program Poker di YouTube Terus Terang Media, Kamis (06/08/2026).

Dalam berita yang beredar pada April 2019, asisten pribadi Prabowo, Rizky Irmansyah, menuturkan kejadian saat Prabowo hendak makan salmon yang dikerubungi semut. Alih-alih mengusir, Prabowo justru berbicara kepada semut-semut itu.

"Pak Prabowo alih-alih mengusir semut tersebut, dia ngomong dengan semutnya. 'Hey, semut-semut, saya mau makan, pergi' semutnya berdasarkan kisah tersebut, saya hanya mengutip. Habis itu yang nyamuk di Hambalang, beliau mau rapat, banyak nyamuk, sama juga, 'hey nyamuk-nyamuk saya mau meeting, pergi' nyamuknya, ke Paris berkali-kali," ujar Rindra.

Rindra juga merespons pernyataan Menteri Koperasi Ferry Juliantono yang menyebut ide KDKMP berasal dari wangsit yang diterima Presiden Prabowo. Ia menilai para pemikir besar memang kerap menerima wangsit.

"Saya rasa tuh kalau para pemikir besar itu umum lahir dari wangsit kan, Immanuel Kant, Karl Marx. Apalagi, beliau tuh, Karl Marx punya Das Kapital, dia punya Ndas Kapital. Dia sebenarnya memang seorang pemikir juga beliau itu, sosialis beliau," kata Rindra.

Pada kesempatan itu, Rindra turut membela pernyataan-pernyataan Presiden Prabowo yang menuai kontroversi, termasuk julukan Londo Ireng yang disematkan kepada pihak-pihak yang kerap mengkritik kebijakannya. Rindra menduga Prabowo hanya teringat pada ayahnya yang pernah menjadi Londo Ireng di era Soekarno, sehingga julukan itu merupakan bentuk nostalgia.

"Jadi, dia itu sedang nostalgia. Jadi, sebenarnya Londo Ireng kan jangan dianggap terlalu bagaimana-bagaimana banget, ada saatnya kita menjadi Londo Ireng. Semua Londo Ireng itu pasti ada di kita, tanpa kita jadi Londo Ireng kita tidak merdeka," ujar Rindra.

Rindra juga menyayangkan pernyataan Presiden Prabowo soal 10 6 = 17 yang memicu pro dan kontra. Pernyataan itu disampaikan dalam Musyawarah Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Lampung. Menurut Rindra, saat itu Prabowo tidak sedang menggunakan logika matematika, melainkan logika fisika kuantum.

"Orang itu tidak sadar beliau tidak sedang menggunakan logika matematika, beliau ketika 10 tambah 6 sama dengan 17 beliau sedang menggunakan logika fisika kuantum, di mana 1 tambah 1 belum tentu 2, orang juga tidak terlalu paham saja sebenarnya," kata Rindra.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags