Zoom Fatigue: Ketika Rapat Daring Menguras Energi Tanpa Disadari

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:06 WIB
Zoom Fatigue: Ketika Rapat Daring Menguras Energi Tanpa Disadari

Ada rasa lelah yang aneh setelah menutup rapat virtual, padahal sepanjang sesi kita hanya duduk diam di depan layar. Tidak ada barang yang diangkat, tidak ada langkah yang ditempuh, tapi tubuh terasa seperti habis bekerja seharian penuh. Jika Anda pernah mengalaminya, Anda tidak sendirian.

Sejak dunia kerja dan sekolah beralih ke layar, satu keluhan terus muncul di mana-mana: capek. Bukan capek fisik karena mengangkat barang, melainkan capek yang aneh lelah meski hanya duduk di depan laptop selama satu atau dua jam. Fenomena ini memiliki nama: zoom fatigue, kelelahan yang muncul akibat terlalu sering berkomunikasi lewat platform video seperti Zoom, Google Meet, atau Teams.

Ironisnya, teknologi yang katanya "mendekatkan yang jauh" ini justru diam-diam menurunkan kualitas komunikasi kita. Rapat jadi lebih pendek fokusnya, obrolan menjadi kaku, dan basa-basi hangat sebelum meeting dimulai yang dulu menjadi bumbu penting dalam relasi kerja perlahan hilang, digantikan simbol "waiting for host to start the meeting".

Salah satu hal yang jarang disadari adalah betapa melelahkannya melihat wajah sendiri terus-menerus selama panggilan video. Di dunia nyata, kita tidak pernah bercermin sepanjang hari sambil mengobrol dengan orang lain. Namun di Zoom, kotak kecil berisi wajah kita sendiri selalu ada di sana, dan otak kita otomatis mengevaluasi diri sendiri: apakah rambut rapi, apakah ekspresi terlihat aneh, apakah pencahayaan bagus.

Jeremy Bailenson, direktur pendiri Virtual Human Interaction Lab di Stanford University, membahas persoalan ini dalam artikel ilmiahnya di jurnal Technology, Mind, and Behavior. Menurutnya, otak manusia dipaksa bekerja jauh lebih keras saat video call dibanding percakapan tatap muka biasa. Tubuh masuk ke semacam kondisi siaga berlebihan yang terus-menerus menguras energi mental efek dari tatapan mata jarak dekat yang berkepanjangan, plus keharusan melebih-lebihkan gestur kecil seperti anggukan atau lambaian tangan agar terlihat jelas di kamera.

Riset ini kemudian dikembangkan lebih jauh oleh tim yang sama bersama Geraldine Fauville dan koleganya. Pada tahun yang sama, mereka menerbitkan Zoom Exhaustion & Fatigue Scale di jurnal Computers in Human Behavior Reports, instrumen ukur yang memetakan kelelahan akibat video call ke dalam lima dimensi: kelelahan umum, sosial, emosional, visual, dan motivasional. Semua itu terdengar sepele satu per satu, tetapi jika dikalikan delapan jam kerja per hari, tidak heran tubuh terasa remuk meski hanya duduk diam.

Empati yang Perlahan Menguap di Balik Layar

Di luar soal teknis dan kognitif, ada persoalan yang lebih dalam: komunikasi virtual pelan-pelan mengikis empati. Stefan Stieger, David Lewetz, dan David Willinger dari Karl Landsteiner University of Health Sciences, Austria, meneliti hal ini lewat studi experience-sampling yang dipublikasikan di jurnal Scientific Reports terhadap lebih dari 400 partisipan di negara-negara berbahasa Jerman selama masa lockdown pandemi.

Temuan mereka menarik: komunikasi digital, termasuk video call, ternyata jauh kurang berkontribusi terhadap kesehatan mental dibanding percakapan tatap muka langsung bahkan meski video call menyediakan lebih banyak isyarat visual dan audio dibanding chat teks biasa. Mereka menjelaskan bahwa dalam komunikasi yang minim isyarat sosial, lawan bicara cenderung dipersepsikan kurang empatik dan kurang hangat, sehingga kehadiran sosial yang utuh tetap menjadi elemen penting untuk membangun hubungan interpersonal yang sehat.

Kalau dipikir-pikir, ini masuk akal. Coba bandingkan rasanya menenangkan teman yang sedang bersedih lewat video call dengan memeluknya langsung. Atau membahas masalah pekerjaan yang sensitif lewat Zoom dibanding ngobrol santai sambil ngopi. Nada suara terpotong-potong karena koneksi lemot, ekspresi wajah terdistorsi kompresi video, jeda bicara jadi canggung karena delay semua "gangguan kecil" ini pelan-pelan mengurangi kedalaman koneksi emosional yang seharusnya terbangun dalam sebuah percakapan.

Sinyal Tubuh yang Diabaikan, Kelelahan yang Terlupakan

Di Indonesia sendiri, zoom fatigue bukan sekadar keluhan anekdotal, tapi sudah diteliti secara serius. Jonathan Salim bersama koleganya dari Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan dan Universitas Airlangga menerbitkan validasi skala ZEF-I (Zoom Exhaustion and Fatigue versi Bahasa Indonesia) di jurnal Fatigue: Biomedicine, Health & Behavior, mengadaptasi instrumen dari Stanford khusus untuk konteks mahasiswa Indonesia.

Dari 300 responden yang diteliti, gejala penglihatan kabur menjadi keluhan yang paling sering muncul di antara mereka yang mengalami kelelahan akibat video call, jauh lebih sering dibanding keluhan lain seperti kebutuhan waktu untuk menyendiri. Temuan ini menegaskan bahwa fenomena zoom fatigue bukan cuma tren impor dari negara lain, tapi benar-benar dirasakan dan bisa diukur secara ilmiah pada populasi Indonesia.

Yang menarik, kelelahan ini sering tidak disadari karena tidak terlihat seperti lelah "biasa". Tidak ada keringat, tidak ada otot pegal karena angkat barang. Namun ruang gerak yang terbatas duduk kaku di depan kamera selama berjam-jam tanpa bisa mondar-mandir seperti saat rapat di ruang meeting sungguhan ditambah beban mental memproses sinyal nonverbal yang datang bertubi-tubi, membuat tubuh dan pikiran sama-sama terkuras meski aktivitas fisiknya minim.

Refleksi: Bukan Soal Anti-Teknologi, Tapi Soal Kesadaran

Menulis ini bukan berarti kita harus membenci Zoom atau kembali sepenuhnya ke era rapat tatap muka. Realitanya, teknologi video conference sudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari entah untuk kerja jarak jauh, kuliah daring, atau sekadar menyapa keluarga di kota lain. Tapi mengabaikan zoom fatigue sama saja membiarkan kualitas komunikasi kita menurun pelan-pelan tanpa kita sadari.

Barangkali yang perlu diubah bukan platformnya, melainkan caranya kita menggunakannya. Sesekali matikan kamera saat rapat tidak butuh visual. Beri jeda antar rapat, walau cuma lima menit untuk menjauh dari layar. Dan yang paling penting, sadari bahwa layar sekecil apa pun tidak bisa sepenuhnya menggantikan kehangatan percakapan langsung. Karena pada akhirnya, komunikasi yang baik bukan soal seberapa canggih alatnya, tapi seberapa hadir kita saat menggunakannya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags