Inflasi DKI Jakarta tercatat sebagai yang terendah di Pulau Jawa berkat meningkatnya pasokan pangan yang mendorong deflasi. Hingga akhir Juli 2026, inflasi tahunan Jakarta mencapai 2,5 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,88 persen.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta, Bambang Arianto, menjelaskan bahwa deflasi pada bulan tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau seiring melimpahnya pasokan komoditas hortikultura dan protein hewani.
"Deflasi pada bulan ini terutama dipengaruhi oleh deflasi pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau seiring meningkatnya pasokan sejumlah komoditas hortikultura dan komoditas protein hewani," kata Bambang dalam siaran persnya, Selasa (4/8/2026).
Capaian ini menunjukkan inflasi Jakarta tetap berada dalam kisaran sasaran, didukung oleh membaiknya pasokan pangan dan sinergi pengendalian inflasi yang erat antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bank Indonesia, dan para pemangku kepentingan.
Bambang merinci, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi pada Juli 2026 dengan deflasi sebesar 1,07 persen secara bulanan, lebih dalam dibandingkan deflasi bulan sebelumnya yang hanya 0,09 persen. Komoditas protein, khususnya daging ayam ras dan telur ayam ras, juga mengalami penurunan harga. Hal ini dipengaruhi oleh tren penurunan harga di tingkat produsen serta meningkatnya pasokan dari Jawa Barat, Blitar, dan Lampung, di tengah permintaan yang relatif stabil.
Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat deflasi sebesar 0,83 persen secara bulanan, setelah pada bulan sebelumnya mengalami inflasi tipis sebesar 0,03 persen. Bambang mengaitkan deflasi ini dengan penurunan harga emas perhiasan seiring koreksi harga emas global.
"Deflasi pada kelompok ini terutama dipengaruhi oleh penurunan harga emas perhiasan seiring dengan koreksi harga emas global," ucapnya.
Di sisi lain, inflasi kelompok transportasi melandai menjadi 0,02 persen secara bulanan, jauh lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 2,54 persen. Pelandaian ini terutama dipengaruhi oleh deflasi tarif angkutan udara seiring normalisasi permintaan pasca-libur sekolah serta penurunan harga avtur untuk penerbangan domestik.
Strategi 4K Terus Diperkuat
Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta terus memperkuat pengendalian inflasi melalui implementasi strategi 4K: Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif. Dari sisi keterjangkauan harga, dilakukan Program Pangan Bersubsidi, pasar murah oleh BUMD Pangan, serta penyaluran beras, termasuk beras SPHP.
"Ketersediaan pasokan diperkuat melalui kerja sama antardaerah, Gerakan Tanam Serentak, kegiatan panen, serta bimbingan teknis kepada petani. Kelancaran distribusi didukung melalui distribusi pangan menggunakan truk keliling oleh BUMD Pangan," kata Bambang.
Untuk komunikasi efektif, TPID menyelenggarakan Festival Pangan Olahan dan Festival Urban Farming pada Jakarta Kreatif Festival 2026 serta memperkuat koordinasi melalui studi banding TPID dari daerah lain ke Jakarta.
Ke depan, implementasi strategi 4K akan terus diperkuat untuk memitigasi risiko inflasi, baik yang bersumber dari faktor global maupun domestik. Bambang menyebut risiko global berasal dari ketidakpastian geopolitik yang berpotensi memengaruhi harga energi, nilai tukar, dan harga komoditas global. Sementara risiko domestik berasal dari potensi cuaca kering pada puncak musim kemarau yang dapat memengaruhi produksi pangan di sejumlah daerah sentra.
"Risiko global terutama berasal dari ketidakpastian geopolitik yang berpotensi memengaruhi harga energi, nilai tukar, dan harga komoditas global, sementara risiko domestik berasal dari potensi cuaca kering pada puncak musim kemarau yang dapat memengaruhi produksi pangan di sejumlah daerah sentra," ujarnya.
Melalui sinergi yang semakin erat antara TPID DKI Jakarta dan seluruh pemangku kepentingan, inflasi Jakarta diharapkan tetap terjaga dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen pada tahun 2026.