Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau tahun 2026 akan berlangsung pada Agustus hingga September. Saat ini, lebih dari separuh wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
"Puncak musim kemarau tahun 2026 ini diprediksi terjadi mayoritas pada bulan Agustus hingga September tahun 2026," kata Deputi Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam jumpa pers, Kamis (30/7).
Berdasarkan data BMKG, 509 zona musim atau 54,5 persen dari luas wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Wilayah yang terdampak meliputi Kalimantan Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Menghadapi kondisi ini, BMKG mengimbau sejumlah sektor untuk melakukan antisipasi. Di sektor pertanian, petani diminta menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang tahan kekeringan. Sektor sumber daya air dan energi juga perlu waspada, terutama terkait pasokan air untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan lonjakan konsumsi listrik akibat cuaca panas.
"Informasi mengenai curah hujan sangat penting untuk menentukan rencana penggunaan air di PLTA-PLTA. Dan juga biasanya cuaca panas itu memicu lonjakan konsumsi energi, sehingga informasi iklim ini sangat digunakan untuk menentukan langkah-langkah antisipasi," papar Ardhasena.
Sektor kesehatan pun tak luput dari perhatian. Cuaca panas dengan tutupan awan rendah dapat memicu heatstroke bagi masyarakat yang beraktivitas lama di luar ruangan. Selain itu, penurunan kualitas udara berpotensi meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Artikel Terkait
BMKG: Musim Hujan Mulai Meluas November 2026, El Nino Berlangsung hingga Awal 2027
Fenomena Bediding Meluas hingga Bali dan NTT, BMKG: Masih Berlangsung hingga September
Fenomena Bediding Meluas ke Bali, NTB, dan NTT, BMKG Imbau Warga Jaga Kesehatan
BMKG: Sebagian Besar Sulsel Berawan, Hujan Ringan Berpotensi di Luwu Raya dan Toraja