Pernyataan bahwa alam pikiran Prabowo Subianto terhenti di tahun 1960-an bukan sekadar guyonan. Pengamatan itu dinilai relevan dengan kebijakan-kebijakan yang tengah digeber pemerintah saat ini.
Pada 2026, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyinggung Sumitronomics, konsep ekonomi campuran warisan Sumitro Djojohadikusumo yang populer di era 1950-1960an. Prabowo sendiri secara terang-terangan mengaku mewarisi pemikiran ekonomi sang ayah. Konsep yang memadukan sosialisme dan kapitalisme itu kini diimplementasikan lewat Danantara dan Koperasi Desa Merah Putih.
Masalahnya, ini bukan sekadar nostalgia. Prabowo secara eksplisit menolak neoliberalisme dan efek menetes ke bawah (trickle-down effect). Ia menilai ekonomi Indonesia selama 30 tahun terakhir dikuasai paham neoliberal yang bertentangan dengan UUD 1945. Ia ingin mengembalikan ekonomi ke jalur kerakyatan.
Yang terjadi sekarang adalah kebangkitan kapitalisme negara (state capitalism) atau bahkan ekonomi komando ala Prabowo. Kondisi ini menghilangkan pemisahan antara pembuat kebijakan, pelaksana, dan pengawas. Majalah Tempo bahkan menulis bahwa Indonesia kembali ke periode 1959-1965.
Artikel Terkait
Prabowo Tegaskan Dukungan ke Palestina Tak Bisa Ditawar
Prabowo Berkelakar di Harlah PKB: MBG Singkatan Mas Bahlil Ganteng
Prabowo Sebut Hati PDIP Sama dengan Pemerintahannya
Cak Imin: Prabowo Ubah Politik Anggaran untuk Kepentingan Publik, 5.000 Jembatan Dibangun Tahun Ini