Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka duduk di barisan menteri koordinator, bukan di samping Presiden Prabowo Subianto, saat rapat kabinet beberapa waktu lalu. Posisi itu menuai sorotan dan pertanyaan publik: apakah ini sekadar penyesuaian teknis atau ada pesan politik di baliknya?
Dalam rapat kabinet yang berlangsung hampir dua jam, Presiden Prabowo memberikan arahan kepada para menteri. Wapres Gibran memilih duduk bersama para menteri koordinator, bukan di kursi yang biasa disediakan di samping Presiden. Namun, saat salam hormat, Wapres tetap disebut pertama, sebelum para menteri.
Sejumlah pengamat menilai tidak ada aturan baku yang mewajibkan Wapres duduk di samping Presiden. "Tak ada keharusan dan tak ada pula larangan. Ini wilayah ijtihad," ujar seorang pengamat politik. Namun, tradisi sebelumnya menunjukkan Wapres selalu berada di sisi Presiden dalam forum resmi.
Pertanyaan soal posisi Wapres ini muncul di tengah pernyataan Presiden Prabowo yang menyebut Prabowo-Gibran akan dua periode. Pernyataan itu dinilai membebani posisi Gibran dan Prabowo sendiri. "Ini tidak saja memberatkan posisi Gibran, tapi juga posisi Prabowo," kata seorang analis.
Apalagi, narasi bahwa Prabowo menjadi presiden berkat Jokowi dan kontribusi Gibran terus diulang. "Gibran Wapres terbaik sepanjang masa," ujar pengamat politik Ade Armando tahun lalu.
Artikel Terkait
Posisi Duduk Gibran Bergeser, Spekulasi Politik Mengemuka
Presiden Prabowo Akan Pimpin Pelantikan 1.500 Perwira TNI-Polri di Istana Merdeka
Mensesneg Buka Suara soal Posisi Duduk Prabowo dan Gibran yang Tak Bersebelahan di Sidang Kabinet
Prabowo Segera Teken Keppres Jampidsus Definitif Pengganti Febrie Adriansyah