Pemerintah Korea Selatan mengungkapkan bahwa Indonesia telah berupaya memfasilitasi pertemuan antara Seoul dan Pyongyang. Namun, inisiatif tersebut belum membuahkan hasil karena Korea Utara menolak usulan dialog yang diatur melalui Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun, kepada wartawan di Seoul, Rabu (5/8/2026). Menurut Cho, peluang untuk membuka kembali jalur dialog multilateral dengan Korea Utara hingga saat ini masih sangat terbatas.
"Indonesia telah mengatur pembicaraan tersebut, tetapi Korea Utara menolaknya," ujar Cho kepada awak media.
Cho menjelaskan, kondisi hubungan antar-Korea saat ini belum menunjukkan perkembangan yang memungkinkan dimulainya kembali perundingan. Karena itu, pemerintah Korea Selatan menilai ruang diplomasi dengan Pyongyang masih menghadapi tantangan besar.
Pernyataan Menlu Cho menjadi sorotan karena disampaikan hanya beberapa hari setelah Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapannya membantu membuka komunikasi antara Korea Selatan dan Korea Utara. Dalam pertemuan bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Istana Negara pada Jumat (31/7/2026), Prabowo mengungkapkan bahwa Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pernah menanyakan kesediaannya untuk berkunjung ke Pyongyang apabila langkah tersebut dinilai dapat membantu mencairkan hubungan kedua negara.
Prabowo saat itu menegaskan Indonesia siap berkontribusi dalam menciptakan perdamaian melalui jalur diplomasi apabila diminta oleh kedua belah pihak. Pernyataan Presiden tersebut dinilai mencerminkan posisi Indonesia yang selama ini konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif dan mendorong penyelesaian berbagai konflik internasional melalui dialog serta pendekatan damai.
Meski demikian, pengakuan dari pemerintah Korea Selatan menunjukkan bahwa upaya awal yang telah dilakukan melalui Indonesia belum memperoleh respons positif dari Korea Utara. Penolakan tersebut sekaligus menggambarkan masih rumitnya hubungan antara Seoul dan Pyongyang, sehingga peluang untuk memulai kembali proses dialog dalam waktu dekat dinilai masih kecil.
Di tengah situasi tersebut, Indonesia tetap dipandang sebagai salah satu negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan kedua Korea dan kerap dipercaya memainkan peran konstruktif dalam berbagai forum internasional. Namun, keberhasilan upaya mediasi tetap sangat bergantung pada kesediaan kedua pihak untuk kembali membuka jalur komunikasi.
Artikel Terkait
Rocky Gerung: Prabowo Harus Batalkan Perjanjian dengan Elite, Bukan Sekadar Reshuffle
Makalah Usulan Nobel untuk Program MBG Berujung Polemik, Nama Prabowo Dicatut?
BTN Salurkan 55.766 Unit KPR FLPP hingga Juli 2026, Tertinggi di Himbara
Makalah Usulan Nobel Perdamaian 2026 Mencantumkan Nama Prabowo sebagai Penulis