Botoks Bukan Sekadar Suntik: Kenali Pantangan dan Fakta Sebelum Memutuskan

- Senin, 03 Agustus 2026 | 14:54 WIB
Botoks Bukan Sekadar Suntik: Kenali Pantangan dan Fakta Sebelum Memutuskan

Seiring meningkatnya tren perawatan kulit, botoks menjadi salah satu prosedur estetika yang banyak dipilih untuk menyamarkan garis halus dan kerutan. Namun, sebelum menjalani prosedur ini, ada sejumlah hal penting yang perlu dipahami, termasuk efek samping dan pantangan setelah penyuntikan.

Berdasarkan survei International Society of Aesthetic Plastic Surgery (ISAPS) 2024, tercatat 7,8 juta prosedur botoks dilakukan oleh dokter bedah di seluruh dunia. Survei yang sama juga menunjukkan bahwa kelompok usia 35-50 tahun menjadi yang paling banyak menjalani prosedur ini.

Prosedur ini bekerja dengan menyuntikkan toksin botulinum yang berasal dari bakteri Clostridium Botulinum ke area wajah tertentu. Toksin ini menghambat sinyal saraf menuju otot, sehingga otot tidak dapat berkontraksi seperti biasa. Akibatnya, garis ekspresi dan kerutan tampak lebih halus, membuat wajah terlihat lebih segar dan awet muda.

Hal yang Perlu Dipahami Sebelum Treatment Botoks

Dokter estetika dr. Phery Cendres, M.Biomed (AAM) menekankan bahwa botoks pada dasarnya bersifat pencegahan, bukan untuk menghilangkan kerutan yang sudah terbentuk sepenuhnya. "Botoks sebenarnya preventif (pencegahan) sebelum terbentuknya garis dalam atau kerutan. Kalau kerutan sudah terbentuk, maka penyuntikan botoks biasanya perlu dilakukan berulang kali," ujarnya.

Setelah menjalani treatment, area yang disuntik tidak boleh dipijat atau ditekan. Hal ini agar cairan botoks dapat menetap dan bekerja optimal. "Kalau sesudah botoks, area yang disuntik tidak boleh dipijat atau ditekan. Kita tunggu sampai cairannya benar-benar settle," jelas dr. Phery.

Efek botoks juga tidak bersifat permanen. Dikutip dari Healthline, dokter spesialis dermatologi medis, kosmetik, dan bedah asal Amerika Serikat, dr. Estee Williams, mengatakan bahwa efek botoks pada area glabella (garis di antara alis), dahi, dan crow's feet di sudut mata umumnya bertahan sekitar tiga hingga empat bulan. Namun, durasi tersebut bisa lebih singkat pada orang yang rutin berolahraga dengan intensitas tinggi atau memiliki ekspresi wajah yang sangat aktif. "Pasien yang rutin berolahraga dengan intensitas tinggi atau memiliki ekspresi wajah yang sangat aktif mungkin akan merasakan bahwa efek Botox hanya bertahan sekitar tiga bulan," jelas dr. Estee.

Sementara itu, untuk mempertahankan hasilnya, dr. Phery menyarankan penyuntikan ulang botoks dilakukan setiap tiga hingga enam bulan sekali.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags