Banyak orang tua tanpa sadar melontarkan bentakan ketika anak melakukan kesalahan, terutama saat mereka sedang lelah atau banyak pikiran. Namun, apakah cara ini efektif membuat anak menjadi lebih baik?
Anak pada dasarnya masih dalam proses belajar. Mereka belum sepenuhnya memahami konsekuensi dari setiap tindakan. Kesalahan yang dilakukan belum tentu karena niat buruk bisa jadi mereka sedang mencoba hal baru, belum mengerti aturan, atau belum mampu mengendalikan rasa ingin tahu. Di sinilah peran orang tua sangat penting: memberikan arahan, bukan sekadar meluapkan emosi.
Sebagian orang tua berpikir membentak akan membuat anak jera. Faktanya, anak yang sering dibentak bisa saja hanya belajar takut pada orang tua, bukan memahami kesalahannya. Mereka cenderung menjadi tertutup, takut berbicara, atau menyembunyikan kesalahan karena khawatir dimarahi lagi. Lebih jauh, bentakan terus-menerus dapat membuat anak merasa dirinya selalu salah, yang berujung pada rendahnya rasa percaya diri dan rusaknya hubungan emosional dengan orang tua.
Meski demikian, bukan berarti orang tua tidak boleh marah. Orang tua adalah manusia biasa yang bisa lelah, kecewa, dan kehilangan kesabaran. Yang terpenting adalah bagaimana melampiaskan emosi tersebut. Saat ingin membentak, orang tua bisa mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri. Setelah lebih tenang, ajak anak berbicara dengan nada yang lebih terkontrol. Misalnya, ketika anak menumpahkan makanan, daripada berteriak, katakan, "Tidak apa-apa, tetapi lain kali lebih hati-hati ya. Sekarang kita bersihkan bersama." Kalimat sederhana itu tetap memberi teguran tanpa membuat anak merasa direndahkan.
Kesalahan anak sejatinya bisa menjadi kesempatan belajar. Orang tua dapat membantu anak memahami apa yang terjadi, mengapa itu salah, dan bagaimana cara memperbaikinya. Dengan begitu, anak tidak hanya takut mengulangi kesalahan, tetapi juga mengerti alasan di balik suatu aturan.
Mendidik anak memang tidak mudah. Orang tua tidak dituntut selalu sempurna. Jika terlanjur membentak, meminta maaf kepada anak bukanlah tanda kehilangan wibawa. Sebaliknya, itu mengajarkan bahwa setiap orang bisa berbuat salah dan berani mengakuinya. Maka, ketika anak berbuat salah, pertanyaan yang lebih penting bukanlah, "Bagaimana agar anak takut dan jera?" melainkan, "Bagaimana agar anak dapat memahami kesalahannya dan belajar menjadi lebih baik?" Sebab, anak mungkin lupa pada kesalahan yang pernah mereka lakukan, tetapi mereka akan selalu ingat bagaimana perasaan mereka saat menghadapi kesalahan itu bersama orang tuanya.