Menjadi seorang ibu membawa banyak perubahan dalam hidup seorang wanita. Selain kebahagiaan karena kehadiran buah hati, peran baru ini juga diwarnai berbagai tantangan, terutama pada masa awal menjadi ibu.
Salah satu perubahan yang paling terlihat adalah fisik. Setelah kehamilan dan persalinan, tubuh membutuhkan waktu untuk pulih dan beradaptasi. Namun, tidak hanya fisik, perubahan emosional juga kerap dirasakan. Banyak ibu menjadi lebih sensitif, mudah cemas, hingga memiliki cara pandang baru terhadap kehidupan dan keluarga.
Pengalaman ini juga dirasakan oleh sejumlah anggota komunitas teman kumparanMOM. Mom Gita Putri (32) misalnya, mengaku sempat merasa tidak stabil secara emosional saat pertama kali memiliki anak. Ia masih bingung beradaptasi dengan tanggung jawab merawat buah hati.
Seiring waktu, Gita mulai bisa mengelola emosinya dengan lebih baik. Ia rutin mengikuti webinar dan kegiatan offline seputar parenting. Dari sana, ia belajar banyak hal yang membuatnya lebih tenang dan percaya diri.
"Seiring berjalannya waktu dan belajar ikut webinar/offline, sekarang jadi lebih terkontrol emosinya dan jadi lebih 'kalem'," tuturnya.
Cerita berbeda datang dari Mom Meliani, anggota teman kumparanMOM lainnya. Menurutnya, menjadi ibu terasa seperti "di-reset" ulang. Meski bentuk tubuhnya tidak banyak berubah, cara berpikir dan prioritas hidupnya hampir sepenuhnya berubah.
Perubahan paling terasa adalah soal jam tidur dan rutinitas sehari-hari. Sebelum memiliki anak, Meliani terbiasa tidur delapan jam, bangun segar, melakukan rutinitas skincare, lalu memikirkan aktivitas harian. Setelah menjadi ibu, waktu tidurnya jauh berkurang karena harus menyesuaikan kebutuhan anak.
"Tidur 4 jam putus-putus, bangun udah kayak zombie, skincare cuma cuci muka doang, tapi otak langsung mikir 'adek udah makan belum ya?'," ujarnya.
Bagi Meliani, kebahagiaan dan kebutuhan anak selalu menjadi prioritas utama. Menurutnya, badan seorang ibu tidak apa-apa kurang terawat, asalkan anak tumbuh di lingkungan yang nyaman, aman, dan bahagia.