Untuk mengatasi hal ini, Bahlil menegaskan pentingnya pengembangan program bioetanol E10-E20. "Caranya bagaimana agar kita tidak terlalu banyak impor? Kita harus mendorong ke E10-E20, etanol. Etanol ini adalah bahan bakunya dari jagung, tebu, kemudian singkong," tegasnya.
Program bioetanol dinilai tidak hanya mendukung kemandirian energi Indonesia, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan dan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah. Bahlil juga membantah pandangan negatif terhadap etanol dengan menunjukkan keberhasilan implementasi di negara lain.
Beberapa negara telah sukses menerapkan program bioetanol, seperti India dengan E30, Amerika Serikat dan Thailand dengan E20, hingga Brasil yang mencapai E85. "Jadi sangat tidak benar kalau ada diskusi-diskusi oleh berbagai kelompok yang mengatakan bahwa etanol ini adalah bahan yang tidak bagus," tutup Bahlil.
Artikel Terkait
Gangguan Pasokan Timur Tengah Ancam Kerek Harga Aluminium
Pajak Rokok DKI Alokasikan Minimal 50% untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Bapanas Pastikan Stok Daging Nasional Melimpah Jelang Idulfitri
Saham Asia Menguat Didorong AI, Waspada Gejolak Harga Minyak