Tradisi Positif IHSG di Agustus Diuji Suksesi Gubernur BI dan Data AS

- Senin, 03 Agustus 2026 | 07:20 WIB
Tradisi Positif IHSG di Agustus Diuji Suksesi Gubernur BI dan Data AS

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki Agustus dengan modal reli terkuat sepanjang tahun. Setelah melonjak sekitar 10 persen pada Juli, indeks kini dihadapkan pada sejumlah sentimen yang berpotensi menguji keberlanjutan penguatannya.

Ketidakpastian mengenai pengganti Gubernur Bank Indonesia (BI) menjadi faktor utama yang membayangi pasar. Selain itu, rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) juga akan menentukan pergerakan indeks ke depan.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai penguatan IHSG pada bulan ini masih berpeluang berlanjut, meski tidak sekuat pola historisnya. Probabilitas kenaikan diperkirakan berada di kisaran 60-65 persen, lebih rendah dibandingkan tingkat keberhasilan historis yang mencapai 100 persen.

Sepanjang Juli, IHSG melonjak 10,28 persen, menjadi kenaikan bulanan terbaik tahun ini. Reli tersebut memangkas sekitar sepertiga pelemahan indeks sejak awal tahun sekaligus mengangkat IHSG kembali ke atas rata-rata pergerakan (moving average/MA) 10 hari dan 20 hari. Indikator Relative Strength Index (RSI) berada di level 53,6, yang menunjukkan ruang penguatan masih terbuka.

Secara historis, Agustus memang menjadi bulan yang bersahabat bagi pasar saham Indonesia. Sejak 2020 hingga 2025, IHSG selalu ditutup menguat pada bulan tersebut dengan rata-rata kenaikan 2,83 persen. Pada Agustus tahun lalu, IHSG bahkan naik 4,63 persen dan menjadi awal dari rangkaian rekor tertinggi indeks.

Namun, tahun ini pasar harus menunggu kepastian mengenai siapa yang akan menggantikan Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI. Nama-nama seperti Destry Damayanti, Muliaman D. Hadad, Aida S. Budiman, dan Thomas Djiwandono beredar sebagai kandidat. Menurut Liza, faktor penentu utama pergerakan pasar bukan lagi kondisi fundamental ekonomi domestik, melainkan siapa yang akan ditunjuk sebagai Gubernur BI.

Selain penunjukan Gubernur BI, investor juga akan mencermati penyampaian Nota Keuangan RAPBN 2027 yang diperkirakan berlangsung sebelum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Dokumen tersebut akan menjadi petunjuk mengenai asumsi pertumbuhan ekonomi, defisit anggaran, pembiayaan negara, hingga kemungkinan sinyal terkait kepemimpinan baru BI.

Dari eksternal, perhatian pasar akan tertuju pada data ketenagakerjaan AS, terutama laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan rilis pada 7 Agustus. Setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menghentikan praktik forward guidance, data ekonomi menjadi faktor utama yang menentukan ekspektasi suku bunga The Fed dan arah aliran dana ke pasar negara berkembang.

Proyeksi Pergerakan IHSG

Untuk Agustus, Kiwoom memproyeksikan skenario dasar (base case) IHSG bergerak di kisaran 6.050 hingga 6.450. Skenario tersebut mengasumsikan pemerintah memilih figur Gubernur BI yang dinilai mampu menjaga kesinambungan kebijakan, sementara data tenaga kerja AS tidak memberikan kejutan besar. Dalam kondisi itu, IHSG diharapkan bertahan di atas area penting 6.220, sebelum menguji rentang 6.285-6.385.

Dalam skenario dasar tersebut, sejumlah sektor dan saham berpeluang menjadi penerima manfaat utama. Sektor perbankan menjadi pilihan utama Kiwoom. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) diperkirakan menjadi yang pertama menikmati sentimen positif apabila pemerintah menunjuk Gubernur BI yang dinilai ramah pasar. Optimisme itu juga ditopang oleh harapan agar koordinasi kebijakan antara Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan Danantara dapat diterjemahkan menjadi dukungan nyata bagi perekonomian.

Selain itu, Kiwoom juga mencermati sektor logam, khususnya PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM). Peluang pelemahan dolar AS apabila The Fed mengambil sikap yang lebih akomodatif dapat menjadi katalis positif bagi harga logam. Sementara itu, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dinilai berpotensi memperoleh sentimen positif sebagai salah satu aset terbesar dalam portofolio Danantara. Saham ini diperkirakan diuntungkan apabila kerangka koordinasi KSSK-Danantara mampu mendorong dukungan pemerintah yang lebih nyata terhadap emiten-emiten berkapitalisasi besar (blue chip).

Sebaliknya, jika pemerintah menunjuk figur yang dipersepsikan lebih politis atau data NFP jauh lebih kuat dari perkiraan sehingga memperkecil peluang penurunan suku bunga The Fed, IHSG berisiko turun ke area 5.900-6.050. Namun apabila penunjukan Gubernur BI diterima positif oleh pasar dan data tenaga kerja Negeri Paman Sam melemah, indeks berpotensi melaju ke kisaran 6.450-6.950 sebagai langkah awal menuju target akhir tahun di level 7.000.

"Penunjukan Thomas Djiwandono atau data NFP yang lebih kuat dari perkiraan merupakan dua peristiwa yang paling mungkin mematahkan pola musiman Agustus ini. Keduanya patut dicermati, tetapi belum menjadi base case kami," tulis Liza.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags