GoTo Catat Laba Bersih Rp607,5 Miliar di Semester I 2026, Fintech Jadi Motor Pertumbuhan

- Rabu, 29 Juli 2026 | 20:20 WIB
GoTo Catat Laba Bersih Rp607,5 Miliar di Semester I 2026, Fintech Jadi Motor Pertumbuhan

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) membukukan laba bersih sebesar Rp607,5 miliar pada semester I 2026. Capaian ini menandai dua kuartal berturut-turut perseroan mencatatkan profit, masing-masing Rp252 miliar di kuartal II dan Rp171 miliar di kuartal I.

Kinerja positif tersebut ditopang oleh pertumbuhan Gross Transaction Value (GTV) inti secara grup yang melonjak 75 persen secara tahunan menjadi Rp302,02 triliun. Pendapatan bersih juga naik 28 persen menjadi Rp10,99 triliun.

Direktur Utama Grup GoTo Hans Patuwo mengatakan perseroan berhasil mempertahankan tren profitabilitas dengan EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui Rp1 triliun untuk pertama kalinya. "Bisnis Fintech kami juga terus menunjukkan kinerja yang unggul. Kini, profitabilitasnya telah melebihi bisnis On-Demand Services untuk pertama kalinya. Hal ini menunjukkan kekuatan dan keseimbangan ekosistem kami," katanya dalam keterangan resmi, Rabu (29/7/2026).

Sejak 1 Juli 2026, GoTo mulai menerapkan struktur komisi baru sesuai Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026 yang berlaku untuk layanan transportasi roda dua Gojek. Hans menjelaskan, bisnis tersebut menyumbang sekitar 7 persen terhadap pendapatan bersih grup, sehingga dampak perubahan komisi akan mulai terlihat pada laporan keuangan kuartal III-2026. "Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya. Karena itu, kami tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun. Kami memperkirakan kontribusi dari bisnis On-Demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar," ujarnya.

Hingga Juni 2026, segmen On-Demand Services melalui Gojek mencatat EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp903 miliar, tumbuh 41 persen. GTV inti naik 3 persen menjadi Rp33 triliun, dan margin segmen Delivery naik dari 1,8 persen menjadi 2,1 persen, ditopang oleh pelanggan affluent dengan jumlah pengguna berbelanja tinggi meningkat 21 persen.

Sementara itu, segmen Fintech melalui Gopay mencatat EBITDA yang disesuaikan Rp845 miliar, melesat 526 persen. GTV inti tumbuh 82 persen menjadi Rp287,96 miliar dengan kualitas pinjaman tetap terjaga, ditunjukkan oleh tunggakan dan non-performing loan (NPL) yang stabil.

GoTo juga terus berinvestasi untuk mendukung mitra pengemudi melalui perluasan Program Apresiasi Mitra, mulai dari BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, beasiswa, hingga program umrah gratis. "Bagi kami, kesuksesan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan seluruh pihak di dalam ekosistem GoTo," kata Hans.

Selain itu, perseroan berencana membatalkan lebih dari 32 miliar saham tresuri, setara sekitar 2,7 persen dari total saham beredar. Rencana tersebut akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) setelah seluruh persiapan selesai.

GoTo mempertahankan target EBITDA Grup yang disesuaikan sebesar Rp3,2 triliun-Rp3,4 triliun pada 2026. Namun, perseroan merevisi target kinerja per segmen: target Fintech dinaikkan menjadi Rp1,7 triliun-Rp1,8 triliun, sementara target On-Demand Services diturunkan menjadi Rp1,4 triliun-Rp1,5 triliun sebagai dampak penerapan komisi aplikasi sebesar 8 persen. Perseroan menegaskan pedoman tersebut didasarkan pada kondisi bisnis saat ini dan masih dapat berubah sesuai perkembangan persaingan industri, inflasi biaya, kondisi ekonomi makro, maupun faktor lain di luar kendali perseroan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags